Ketegangan antara blok Pandawa dan Kurawa makin meruncing. Dua golongan yang serumpun itu saling mempersenjatai diri berjaga-jaga kalau-kalau perang pecah. Pangkal ketegangan itu ialah tentang negeri Astina yang menjadi hak Pandawa, akan tetapi dicengkeram pihak Kurawa. Beberapa pihak mengkhawatirkan bila perang terjadi. Sebab baik Pandawa maupun Kurawa sama-sama mempunyai senjata ampuh.
Rupanya hal ini disadari betul oleh pihak Pandawa. Oleh karena itulah mereka lalu mengadakan sidang darurat. Sidang mengambil tempat di istana Wirata. Matswapati raja Wirata bertindak sebagai tuan rumah. Hadir dalam persidangan tersebut Prabu Kresna raja dari negeri Dwarawati ahli dalam ilmu politik dan strategi militer. Kemudian Prabu Drupada raja dari negeri Cempalaradya atau Pancala, dan tentu saja para Pandawa yang punya kepentingan langsung.
Keputusan sidang, menugaskan Prabu Kresna untuk melawat ke Astina dengan tugas diplomatik mengajak perundingan perdamaian dengan Kurawa. Instruksi diberikan kepada Sri Kresna, agar Kurawa bersedia mengembalikan secara baik-baik separuh saja negeri Astina kepada Pandawa. Tapi kalau tidak mau, apaboleh buat perang Bharatayudha terpaksa terjadi. Kresna menyatakan bersedia menjalankan tugas itu.
Pada hari yang ditetapkan berangkatlah Prabu Kresna disertai Raden Setiyaki gubernur Lesanpura wilayah Dwarawati. Tidak lupa pula, Kresna menyertakan beberapa orang wartawan media cetak, elektronik dan on line. Maksud Kresna agar tidak terjadi kesimpang-siuran pemberitaan.
Kurawa yang sudah mendapat kabar akan datangnya rombongan misi diplomatik dari Pandawa, menyiapkan diri. Jalan-jalan yang akan dilalui Kresna diperlebar . Pagar-pagar dibetulkan kalau perlu dikapur. Jalan berlubang segera ditutup dan diaspal licin.
Keadaan dalam kota ditertibkan. Tong-tong sampah yang semula diabaikan kemudian ditekankan penggunaannya. Pendeknya Duryudana sebagai raja ingin menunjukkan kepada Kresna kebagusan Astina.
Sementara itu Kresna dalam perjalanan ketika sampai di Tegal Kurusetra rombongannya bertambah empat dewa dari Suralaya. Masing-masing Narada, Rama Parasu, Kanwa dan Janaka. Ikut dalam rombongan untuk menjadi saksi jalannya perundingan. Adanya empat dewa tersebut membesarkan hati Kresna.
Kedatangan Kresna di Astina disambut dengan meriah. Tetapi Kresna tahu ada maksud terselubung di balik itu. Beberapa sesepuh Astina ikut menyambut, diantaranya Resi Bisma, Destarata bersama istrinya Gendari sebagai orang tua Kurawa. Prabu Salya raja negeri Mandaraka mertua Prabu Duryudana. Kemudian Yama Widura yang merupakan paman dari Pandawa dan Kurawa ikut pula menyambut.
Suasana persaudaraan terasa sekali. Beberapa wartawan ada yang menyimpulkan tugas Kresna bakalan berhasil. Mereka dengan antusias jeprat-jepret mengambil gambar suasana penyambutan. Akan tetapi Kresna sendiri sebagai seorang diplomat berpengalaman, justru jadi lebih hati-hati. Sebab Kresna sudah mencium sesuatu yang nampak tidak wajar dalam penyambutan itu. Kresna melihat prajurit Astina siap siaga penuh meskipun secara samar.
Dengan mimik diplomatnya, Kresna menyalami semua tokoh Astina yang menyambut. Ketika Duryudana memeluk, Kresna membalas dengan hangat. Rombongan tamu kemudian dibawa masuk istana. Di sana telah disiapkan hidangan yang lezat-lezat. Berbagai menu disediakan.
Penyambutan yang luar biasa keramahan yang nampak berlebihan dari Duryudana, memancing kecurigaan Kresna. Itulah sebabnya Kresna menolak tawaran Duryudana untuk mencicipi hidangan. Alasan Kresna, tugas belum dimulai tidak berani bersenang-senang.
Perundingan segera dimulai. Kresna menyampaikan tuntutan Pandawa, yang menurut Kresna, sudah banyak mengalah. Tuntutan hanya separuh negeri. Semua yang hadir memuji keputusan Pandawa, kemudian menyarankan agar Duryudana memenuhi tuntutan itu. Jangan sampai terjadi perang Bharatayudha yang hanya menyengsarakan rakyat kecil.
Mungkin karena mendapat desakan dari semua yang hadir, maka Duryudana menerima tuntutan Pandawa. Meskipun, Kresna melihat sorot mata tidak rela dari Duryudana. Para dewa setelah mendengar kesanggupan Duryudana, lalu minta diri untuk kembali ke kahyangan.
Ketika para dewa telah pergi, Duryudana segera menarik kembali kesanggupannya. Ia menyatakan pada Kresna, apapun yang terjadi, dia tidak akan menyerahkan sejengkal pun bumi Astina kepada Pandawa. Akan mempertahankannya sampai titik darah penghabisan.
Semua yang hadir terkejut. Mereka mencap Duryudana sebagai raja yang tidak bisa menjalankan “Sabda Pandhita Ratu”. Bicara berubah-ubah. Tetapi Duryudana tidak peduli dengan cemoohan itu. Dia segera meninggalkan ruang sidang, sambil memberi isyarat kepada Patih Harya Sakuni untuk menggerakkan pasukan yang telah dipersiapkan.
Karena tuan rumah meninggalkan ruang sidang, maka Kresna dan rombongan juga segera keluar dari ruang sidang. Ternyata di luar prajurit Astina bersama Kurawa sudah siap untuk memusnahkan rombonban duta para Pandawa itu.
Setiyaki ipar Kresna yang gampang naik darah, melihat keadaan itu tidak bisa mengendalikan diri. Segera maju mengamuk menghadapi prajurit-prajurit Astina yang kemudian kalang kabut. Majulah kemudian Burisrawa putra mahkota Mandaraka adik ipar Duryudana. Duel seru terjadilah, meski Setiyaki lebih kecil tapi kuat dan ulet. Burisrawa yang tinggi besar kuwalahan menghadapi Setiyaki.
Melihat kejadian itu, Kresna menjadi marah. Segera merubah dirinya menjadi raksasa yang besar sekali, siap melindas semua yang menghalangi. Para Kurawa lari bersembunyi. Sesepuh Astina, Resi Bisma dan Durna menyembah mohon agar Kresna meredakan amarahnya. Tetapi Kresna tidak peduli.
Melihat kejadian itu, Hyang Jagad Girinata raja para dewa segera menitahkan Batara Surya untuk melerai dan meredakan kemarahan Kresna.
“Kresna cucuku, ingatlah engkau adalah titisan Wisnu, pemelihara alam. Tahanlah kemarahanmu. Kalau hanya ingin menghancurkan dunia, itu soal mudah bagimu. Tetapi ingatlah isi dunia lainnya yang tidak berdosa ikut menderita akibatnya.”
Batara Narada datang lagi ikut meredakan kemarahan Kresna. Untunglah penjelmaan Dewa Wisnu ini kemudian bisa disabarkan, dia kembali ke ujud semula sebagai Kresna. Semua berlega hati, Kresna dan rombongan kemudian kembali ke Wirata.
Dengan gagalnya misi perdamaian itu, berarti perang besar antar saudara sendiri akan meletus. Perang Bharatayuda yang memakan banyak kurban dari semua pihak yang terlibat. (Naskah ini tulisan Warisman pernah dikirimkan ke Redaksi Suara Merdeka kemudian dimuat pada edisi Minggu Ini 12 Juli 1981 hal IX)
Misi Perdamaian yang Gagal
Written By Fiksi Blog on Thursday, 26 December 2013 | 05:49
Related Articles
If you enjoyed this article just click here, or subscribe to receive more great content just like it.
Labels:
Bimbingan Orang Tua,
Semua Umur

0 comments:
Post a Comment