Demikian pula Irawan, dia telah siap pergi ke masjid untuk shalat Maghrib berjamaah, pahalanya jauh lebih besar daripada shalat sendiri di rumah. Usai shalat berjamaah Irawan yang masih kelas lima SD itu kemudian mengaji. Pulang mengaji usai shalat Isya Irawan lalu belajar. Namun biasanya siang sepulang sekolah membuka kembali catatannya.
Petang itu pun dia telah siap berangkat ke masjid, namun tiba-tiba dia mendengar ibunya berteriak memanggilnya dari dalam kamar. Irawan berlari mendekati ibunya yang sangat ia hormati dan sangat menyayangi Irawan. Irawan hanya anak tunggal tapi tidak manja. Ibunya seorang pedagang perhiasan dari emas. Sedang ayah Irawan seorang anggota ABRI sedang bertugas di perbatasan."Wawan kau tahu cincin barmata biru yang aku letakkan di kotak perhiasan dan aku simpan di lemari ini?" tanya Ibu Irawan
"Tidak Bu, tidak," jawab Irawan sambil memandang wajah ibunya yang kelihatan gusar.
"Wan cincin itu tidak ada di tempatnya padahal tadi siang masih ada. Harganya mahal, Wan. Hh. He betul kamu tidak tahu Wan?"
"Bu, pernahkah Wawan berdusta pada Ibu?"
"Kalau begitu panggil Siyem cepat!". Irawan ketakutan melihat ibunya yang tidak pernah marah itu kini marah-marah, matanya bagai menyala. Irawan segera berlari ke dapur memanggil Siyem pembantu rumah tangga mereka.
"He Yem, kamu tahu cincin bermata biru yang saya letakan pada kotak kecil dan saya simpan di lemari kamar ini?"
"Tidak, Nya...tidak," jawab Siyem yang berbadan gemuk itu nampak ketakutan sekali.
"Tadi waktu akan ke pasar cincin itu masih ada...Wan tadi ada anak-anak nonton Tv disini tidak?" (catatan pada saat tulisan ini dibuat tahun 1982, di Indonesia yang mempunyai pesawat televisi belum setiap keluarga. Banyak yang menonton TV numpang di tempat tetangga, balai desa, kantor kecamatan dan tempat umum lainnya dan waktu itu hanya ada TVRI).
"Tidak Bu, TV tiap tidak saya hidupkan, orang kemari juga tidak ada. Saya juga tidak di rumah waktu itu Ibu ke pasar, saya bermain kelereng dengan Bambang di rumah Haryono."
Kini ibunya Irawan berbalik memandang kepada Siyem dengan mata menyala."Kalau begitu yang di rumah cuma engkau Yem, aku tahu Wawan tidak pernah berdusta padaku.Sekarang akuilah Yem kalau kamu mengambil, tiap hari aku beri uang untuk jajan. Sedang kau...kau dari keluarga miskin. Ayo Yem akuilah jangan menunggu aku marah. Cincin itu harganya Rp 100 ribu."(cerita ini dibuat tahun 1982)
"Nyonya...saya...saya ...tid...tidak mengambilnya..."
"Aku tidak percaya, apa kau kira aku tidak tahu, ayahmu seorang pencuri, mau tidak mau anaknya pasti bakat pencuri!"
"Nyonya, sungguh mati Nyonya saya tidak mengambilnya."
"Mungkir ya!?" Tiba-tiba tangan ibu Irawan melayang menampar kepala Siyem sampai sempoyongan hampir jatuh untung bisa bersandar dinding.
"Saya tidak mengambil Nyonya. Berani sumpah mati."
"He masih mungkir lagi ya!" ibu Irawan menyambar sebuah garisan kayu milik Irawan. Garisan diayunkan dengan deras mengarah kepala Siyem yang membuatnya ketakutan.
Untunglah Irawan sigap mencegah tindakan ibunya.
"Ibu sudahlah, mungkin Ibu lupa menyimpannya jangan main pukul," Irawan masih memegangi tangan ibunya.
"Tidak mungkin. Sekarang begini, aku sudah sudah tidak sudi punya pembantu macam Siyem. Sekarang harus pergi dari rumah ini sekarang juga ayo pergi!" hardik ibu Irawan.
Dengan menangis Siyem lalu menyiapkan barang-barangnya karena sudah diusir ia berniat untuk pulang ke rumah orangtuanya di desa Jemur. Irawan merasa iba melihat Siyem yang tidak terpaut banyak umur dan besar tubuhnya itu berjalan gontai keluar rumah.
Irawan terus memandangi kepergian Siyem pembantu yang setia, yang selalu menurut disuruh apa saja.
Hati Irawan tidak tenang, dia tidak jadi pergi ke masjid salat di rumah. Selesai salat dan berdoa dia duduk di ruang tengah. Pikirannya kalut merasa kasihan kepada Siyem.
Sementara ibunya masih sibuk mencari cincin yang hilang. Sebetulnya dia menyesal mengusir Siyem tapi kalau ingat harganya cincin yang hilang ...
Tiba-tiba bel berbunyi dengan malas Irawan bankit menuju pintu depan. Ternyata Pak Amat tukang becak yang biasa mangkal di depan rumah.
"Wan Siyem Wan...dia keserempet mobil waktu menyeberang jalan. Dia kini di rumah sakit."
"Ha! Siyem keserempet mobil ... Bu...Ibu..."
Ibunya Irawan berlari mendekat.
"Ada apa, oh Pak Amat ada apa Pak?"
"Anu Bu Siyem keserempet mobil."
"Rasakan itu hadiahnya orang berdusta. Biar saja mampus sekalian dia baru saja mencuri cincin saya Pak. Dia kuusir tadi."
"Bu tidak! Dia tidak bersalah Bu. Ayo sekarang kita ke rumah sakit naik becak Pak Amat."
"He apa-apaan kau Wan?"
"Sudahlah Bu nanti Wawan jelaskan di sana ayo cepat Bu.!"
Akhirnya ibunya Irawan menuruti kemauan anaknya. Mereka ke rumah sakit dengan becak Pak Amat.
Ketika di rumah sakit Irawan merasa iba melihat Siyem yang kaki dan tangannya dibalut.Untung kata dokter hanya luka ringan. Besok pagi sudah bisa pulang. Dia hanya schok (kaget) dan sudah disuntik ATS agar tidak terkena tetanus.
Irawan mendekati Siyem menjabat tangannya lalu menangis.
"Yem maafkan aku, gara-gara aku kamu menderita. Ibu maafkan Wawan selama ini belum pernah berdusta terhadap siapa saja. Baru kali ini berdusta. Sebetulnya tadi cincin itu saya ambil saya pakai untuk main-main di rumah Haryono. Tapi jatuh di selokan dekat rumah Haryono. Aku takut karena tahu cincin itu mahal harganya jadi aku berdusta."
"Oh anakku!" Ibunya Irawan memeluk anaknya dan juga Siyem yang besarnya sama dengan Irawan. Ketiganya saling berpelukan sambil menangis.(Naskah ini tulisan Warisman pernah dikirimkan ke redaksi majalah Putera Kita dan dimuat pada Putera Kita no 58 Th VII tgl 10 Mei 1982)
0 comments:
Post a Comment