![]() |
| Bobo No 34/xxvii 25 November 1999 |
Diantara rakyat miskin itu, ada seorang pria yang ikut menjadi penjahat. Namanya Somad. Pria ini biasa mencuri ternak. Ia sangat mengerti mana ternak yang bagus dan yang tidak.
Siang hari dia biasa berkeliling mencari sasaran.Siapa yang mempunyai ternak dan bisa dicurinya. Malam harinya baru dia beraksi. Dari ayam, kambing, sampai sapi dan kerbau pernah dicurinya. Hasil curiannya lalu dijual ke tempat yang jauh supaya tidak ketahuan.
Suatu hari Somad melihat sapi Pak Tarman yang cukup gemuk. Somad meneliti, dimana letak kandangnya, dimana jalan yang akan digunakan untuk menuntun sapi itu pergi. Juga dimana jalan untuk lari seandainya ketahuan.
Setelah cukup menaliti, Somad kemudian pulang. Menunggu datangnya malam untuk beraksi.
Begitulah! Saat malam tiba dan suasana sudah sepi. Somad mengendap-endap menuju rumah Pak Tarman. Ia berhasil mendekati kandang sapi. Dalam gelapnya malam, Somad melihat sesosok hitam di sudut kandang sebelah Utaras. Somad yakin, itulah sapi yang akan dicurinya.
Somad tak tahu, kalau sore ada seekor harimau memasuki kandang itu. Si harimau ingin memangsa sapi Pak Tarman. Ia berhasil mendekati kandang sapi Pak Tarman. Namun ia menunggu suasana sepi di sudut Utara kandang. Sementara si sapi mendekam di sudut Selatan.
Somad melangkah bersiap memasuki kandang. Namun tiba-tiba terdengar anak Pak Tarman yang kecil menangis. Somad menghentikan langkahnya.
"Diamlah. Kalau malam -malam menangis nanti dibawa hantu," bohong pengasuhnya yang galak.
Si anak terdiam. Ia takut mendengar ancaman pengasuhnya. Suasana kembali sepi. Hati Somad jadi senang. Setelah dirasa aman, Somad kembali mendekati pintu kandang sapi.
Tadinya si harimau juga sudah siap menerkam sapi. Namun ia pun mendengar ucapan pengasuh anak Pak Tarman. Meskipun binatang, harimau itu mengerti bahasa manusia. Ia pernah mendengar cerita manusia tentang hantu yang seram. Harimau yang terkenal galak ini ternyata takut juga pada hantu.
"Hah? Jangan-jangan itu hantunya!"pikir harimau saat Somad mengendap-endap mendekat sambil membawa tali.
Saking takutnya, si harimau diam saja ketika Somad mengalungkan tali ke lehernya. Ia juga menurut ketika Somad menuntunnya ke luar kandang.
"Rejeki besar aku mendapat sapi gemuk," kata Somad dalam hati.
Begitulah ! Somad menuntun harimau yang dikira sapi. Sedang harimau menurut saja karena menyangka Somad itu hantu.
Mereka terus berjalan, semakin jauh dari rumah Pak Tarman. Biasanya harimau suka sekali menggeram dan mengaum. Namun kini ia diam saja karena takut. Tetapi kemudian karena tidak tahan akhirnya harimau itu menggeram.
Somad kaget mendengar geraman itu. Dengan takut ia menengok ke belakang, melihat yang dituntunnya.
"Hah, sapi berubah menjadi harimau! Ini pasti hantu! Tolooong....tolooong ada hantu..." Samad lari meninggalkan harimau yang ia tuntun.
Si harimau jadi bingung. Mengapa ada hantu yang lari dan berteriak-teriak minta tolong karena ada hantu?
"Jangan-jangan ada hantu lain yang lebih mengerikan," pikir si harimau.
Sementara itu orang - orang terbangun mendengar teriakan Somad. Beberapa orang kemudian keluar rumah. Mendengar suara-suara manusia si harimau semakin takut. Disangkanya hantu yang lebih menakutkan datang.
"Aku harus lari," pikir si harimau.
Harimau itu segera lari menyelamatkan diri. Orang yang sekilas melihat harimau berkelebat, mengira itu hantu. Mereka pun ikut berteriak ada hantu. Suasana jadi gempar. Si harimau semakin takut, dan mempercepat larinya.(Naskah ini tulisan Warisman pernah dikirimkan ke redaksi majalah Bobo dan dimuat Bobo No 34/XXVII 25 November 1999 rubrik dongeng).

0 comments:
Post a Comment