Suasana hening, semua diam, hanyut dalam rasa dan pikiran masing-masing. Basukarna memandangi awan putih yang berarak-arakan di langit, berjalan sesuai tiupan angin. Kresna memandangi ujung jari kakinya sendiri, sedangkan Kunti dengan harap-harap cemas memandangi anak sulungnya.
“Karna, sekali lagi bunda meminta dengan sepenuh cinta, agar engkau meninggalkan Kurawa, bergabung dengan saudara-saudaramu Pandawa, “ucap Kunti.
“Bunda, maafkan nanda jika tetap tidak bisa memenuhi permintaan Bunda. Bagaimana mungkin nanda meninggalkan Dinda Duryudana beserta Kurawa pada saat mereka membutuhkan bantuan nanda. Sementara, selama ini nanda selalu menikmati limpahan duniawi dari mereka,” jawab Basukarna.
“Tetapi aku ibumu dan Pandawa saudara-saudaramu satu ibu. Akankah kalian berhadap-hadapan untuk saling membunuh?”
Kunti mengucapkan kata-kata itu dengan nada cemas. Ia memang pantas merasa cemas, sebab jika Basukarna tidak memenuhi permintaannya bisa dipastikan salah satu dari anak Kunti kelak menjadi korban perang Baratayuda.
Sudah santer dibicarakan jika nanti Baratayuda pecah Basukarana akan berhadap-hadapan dengan Arjuna. Dua orang kakak beradik berdiri di kubu yang berseberangan.
Basukarna dan Arjuna bukan hanya mirip secara fisik, melainkan juga ketrampilan mereka menggunakan anak panah dan imbang dalam kesaktian.
Masih untung jika salah satu yang mati. Sebab tidak menutup kemungkinan dua-duanya mati. Itulah bayangan hitam yang tergambar dalam angan Kunti.
Suasana kembali menjadi sepi. Kresna yang biasanya banyak bicara dan pandai membujuk, kali ini hanya bisa ikut-ikutan menghela nafas panjang. Ia tahu betul betapa berat Basukarna menjatuhkan pilihan. Kresna yang tahu sejarah hidup Basukarna tidak bisa membantu untuk menentukan pilihan, justru karena Basukarna adalah adik sepupunya. Anak bibinya.
“Bunda, Pandawa memang adik-adik nanda, tetapi betapa berat budi baik yang telah dilimpahkan Dinda Prabu Duryudana kepada nanda. Kurawalah yang telah mengentaskan nanda dari kehidupan papa. Dinda Duryudana mengangkat nanda sebagai saudara, sejajar derajatnya dengan keturunan Barata. Haruskah nanda mengkhianatinya? Lalu apa kata dunia? Oh Karna anak Kunti tidak tahu membalas budi. Bunda pun akan terkena getahnya,” kata Basukarna yang kemudian wajahnya menunduk.
Kresna masih diam, ia hanya bergeser dari tempat berdirinya semula, karena terpaan sinar matahari. Kresna kemudian memilih tempat di bawah rimbunnya pohon.
“Tetapi apakah engkau tega membunuh adik-adikmu sendiri?” tanya Kunti.
Kembali hening. Basukarna diam, bukan karena tidak bisa menjawab, tapi karena ia sulit untuk mengeluarkan kata-kata.
“Jawablah Anakku, apakah engkau tega membunuh Arjuna, Yudistira dan Bima? Mereka satu ibu denganmu, aku masih bisa maklum kalau engkau tega membunuh Nakula dan Sadewa karena tidak ada hubungan darah. Tetapi siapa pun diantara kalian berenam yang terbunuh, itu merupakan luka yang pedih bagi hatiku. Karena meskipun Nakula dan Sadewa anak tiri, tapi aku mengasuhnya sejak kecil, cintaku padanya bagaikan kepada anak kandung sendiri.”
“Bunda, nanda sama sekali tidak ingin melukai hati Bunda, tetapi nanda adalah seorang ksatria, lebih takut kepada malu daripada kepada maut. Nanda harus menjunjung tinggi sikap seorang ksatria. Nanda sudah bersumpah kepada Dinda Duryudana untuk membelanya jika menghadapi segala ancaman. Nanda lebih takut dikecam dunia daripada ancaman maut. Bunda, yang kita kenal selama ini, Pandawa itu jumlahnya lima. Jika nanda yang gugur, Pandawa tetap berjumlah lima orang. Sedang jika Dinda Arjuna yang gugur, jumlahnya juga tetap lima orang. Tetapi Bunda, meskipun mungkin nanda melukai hati Bunda, nanda tetap memilih luka yang lebih ringan. Dalam perang Baratayuda besok, nanda rela mati dibunuh oleh Arjuna,” Basukarna akhirnya mampu mengucapkan tekadnya.
“Oh Karna anakku. Sudah bulatkah tekadmu?”
Basukarna hanya mengangguk.
“Oh anakku,” Kunti lalu balik kanan lari-lari kecil sambil menangis kembali ke kaputren istana Astinapura.
Tanpa sadar air bening meluncur dari mata Basukarna, membasahi pipinya. Kresna menghampiri Basukarna menepuk-nepuk pundaknya.
“Dinda, kanda memang tidak bisa membantu mengarahkan pilihan apa yang harus Dinda jatuhkan. Justru karena Dinda adalah adik sepupu kanda. Tetapi mendengar jawaban Dinda terhadap Bibi Kunti, ada rasa haru sekaligus bangga pada diri kanda. Haru karena Dinda merelakan diri untuk menjadi tumbal, bangga karena Dinda tetap sadar akan bakti seorang ksatria.”
“Kanda Kresna, mungkin Kanda malah tahu lebih banyak. Yang jelas Kanda, dengan tetap bergabungnya dinda dengan Kurawa, membuat Kurawa lebih mantap maju ke medan perang Baratayuda. Dengan begitu, terbuka peluang Pandawa untuk membasmi kejahatan yang selama ini dilakukan Kurawa. Oleh karena itu, dinda memilih tetap berada di pihak Kurawa, semata-mata agar Pandawa bisa menumpas kejahatan. Betul-betul dinda rela dibunuh Dinda Arjuna dalam perang Baratayuda besok,” kata Basukarna.
“Oh Dinda, engkau betul-betul menjunjung tinggi sikap ksatria,” Kresna lalu memeluk Karna.
Kresna kemudian berpamitan untuk kembali ke Wirata melaporkan tugas yang diembannya sebagai duta para Pandawa.Misi perdamaian yang gagal. Kurawa tetap pada tekadnya tidak mau mengembalikan sebagian tanah Astina yang menjadi hak Pandawa. Kurawa memilih untuk bertempur menghadapi Pandawa.
Kurawa mengandalkan besarnya bantuan negeri-negeri seberang untuk menghancurkan Pandawa.
Sedangkan Pandawa berlandaskan pada tekad menegakkan kebenaran, membasmi angkara murka. Tekad suci inilah yang membesarkan hati Pandawa dalam menghadapi Kurawa. Bagi Pandawa meminta kembali hak atas tanah semata-mata hanya sebagai cara untuk bisa menumpas keangkaramurkaan Kurawa. Menuntut kembali separo bumi Astina bukan tujuan utama Pandawa.
Sementgara itu di kaputren istana Astina, Kunti menangis tersedu-sedu, menelungkup di peraduan. Berbagai rasa berbaur pada diri Kunti. Haru, bangga sekaligus iba kepada Basukarna. Haru karena kesediaannya menjadi korban, bangga karena tekadnya untuk tetap menjunjung tinggi sikap ksatria, iba karena sejak kecil Basukarna tak pernah merasakan kasih sayang dari ibu kandungnya.
Kunti menyesali masa lalunya, gara-gara hanya untuk mempertahankan martabatnya sebagai putri raja, ia tega membuang Basukarna ke Sungai Gangga., bayi hasil hubungan gelapnya dengan Batara Surya. Aib tingkat tinggi. Tetapi bak kata pepatah, sepandai-pandai membungkus yang busuk berbau juga. Toh akhirnya semua tahu Kunti mempunyai anak di luar nikah dengan Batara Surya. Anak sulungnya yang bernama Basukarna yang sudah terlanjur dibuang, dianggap hilang. Dan nampaknya Karna tetap menjadi anak hilang.
“Sungguh malang nasibmu Nak, “sesal Kunti di sela isak tangisnya.(Naskah ini tulisan Warisman pernah dikirimkan ke Harian Suara Merdeka dan dimuat pada edisi Minggu 25 Agustus 2002)
Karna Hilang, Ksatria Terbilang
Written By Fiksi Blog on Sunday, 29 December 2013 | 02:22
Related Articles
If you enjoyed this article just click here, or subscribe to receive more great content just like it.
Labels:
Bimbingan Orang Tua,
Semua Umur

0 comments:
Post a Comment