(Rubrik Wayang Mbeling Harian Suara Merdeka Minggu 17 Agustus 2003)
Memang di Nisadha tidak ada ketentuan calon raja harus lulusan pasca sarjana, tetapi Raden Ekalaya tahu diri. Untuk lebih memantapkan diri, ia bertekad melanjutkan pelajaran, tidak tanggung-tanggung ke Universitas Sokalima di Astina. Sebuah perguruan tinggi favorit di dunia wayang.
Ilustrasi Harian Suara Merdeka
Ilustrasi Harian Suara Merdeka
“Kok sejauh itu Mas, di Nisadha juga ada perguruan tinggi cukup bagus. Lagi pula Mas Ekalaya bukan terdakwa, bukan terpidana kenapa harus repot-repot kuliah di Astina? Dan lagi, Mas Ekalaya juga sudah dapat restu untuk menduduki tahta karena memang pewaris tahta Nisadha,” kata Dewi Anggraeni istri Raden Ekalaya.
“Sekarang ini, meskipun sudah dapat restu belum tentu bisa menduduki jabatan. Karena sebetulnya sudah bakan lagi zamannya restu-restuan ,” kata Ekalaya.
Dewi Anggraeni hanya diam. Ia memang pernah mendengar ada calon raja yang sudah mendapat restu raja sebelumnya, ternyata tidak bisa menduduki tahta. Dia juga pernah mendengar calon raja yang tidak direstui, tetapi berhasil menjadi raja itu, kemudian menuai petaka. Dikorek-korek kesalahannya, akhirnya berlanjut menjadi terdakwa.
“Namun, mengapa harus ke Astina?” tanya Anggraeni yang keberatan sang suami pergi jauh. Maklum pengantin baru.
“Aku mengejar kualitas. Sokalima merupakan universitas favorit, dikelola oleh Prof Dr Resi Kumbayana yang lebih akrab dengan sebutan Resi Durna. Bukan berarti aku tidak mencintai produk dalam negeri, tetapi kenyataannya belum ada yang bisa menandingi Universitas Sokalima. Maka biarlah aku pergi ke sana, supaya kelak ketika naik tahta aku sudah tidak canggung lagi,” kata Ekalaya.
Akhirnya Dewi Anggraeni tidak bisa lagi mencegah Kepergian suaminya. Ayahanda raja juga mendorong Raden Ekalaya untuk pergi ke Astina. Sejak dulu, orang tua Ekalaya memang selalu mencari lembaga pendidikan terbaik untuk anaknya. Berapa pun biayanya. Ekalaya sendiri berotak cerdas.
Maka berangkatlah Ekalaya ke Astina, dengan kendaraan pribadi, ongkos pribadi. Meskipun putra mahkota, calon raja, kalau kepentingan pribadi Ekalaya tidak mau menggunakan uang negara.
Sampailah Ekalaya di Astina dengan selamat. Langsung menuju kampus Sokalima. Ketika Ekalaya memarkir kendaraan, bersamaan dengan seorang mahasiswa berwajah tampan, trendy mengendarai mobil sport.
Ekalaya pernah melihat wajah itu di surat kabar, majalah dan televisi. Mahasiswa dengan prestasi menakjubkan dan sering muncul di televisi sebagai presenter dan pemain sinetron. Namanya Arjuna mahasiswa pasca sarjana Universitas Sokalima.
Dengan gaya seenaknya Arjuna turun dari mobil kemudian melangkah menuju ruang kuliah. Ekalaya memandangi punggung Arjuna dengan rasa kagum. Saat itulah dia mendengar suara dehem seseorang. Ketika Ekalaya menoleh ada seorang pemuda di dekatnya.
“Tampaknya kamu bukan mahasiswa Sokalima?” tanya pemuda itu.
“Saat ini belum, aku baru akan mendaftar pasca sarjana,” jawab Ekalaya sambil turun dari mobil.
“Semoga kamu diterima. Oh ya asalmu dari mana?” tanya pemuda itu lagi.
“Aku dari Nisadha. Kamu mahasiswa di sini, atau malah dosen?” Ekalaya balik bertanya.
“Ha ha ha memangnya aku bertampang akademis? Meskipun aku anak Prof Durna, tetapi otakku tumpul, maka aku hanya menjadi karyawan rendahan di sini,” kata pemuda itu.
“Ah jangan merendah seperti itu. Sebaiknya kita berkenalan lebih dahulu. Namaku Ekalaya putra mahkota Nisadha. Saya lulusan Fisipol Universitas Nisadha.”
“Namaku Bambang Aswatama hanya lulusan SMA. Nampaknya kamu mengagumi Arjuna?” tanya Awatama.
“Iya terkenal sampai negeriku,” jawab Ekalaya.
“Dia memang kebanggaan dan kesayangan ayahku. Namun di dunia ini tidak ada yang sempurna. Jadi kamu jangan berlebihan mengaguminya,” kata Awatama.
“Tapi setidak-tidaknya dia bisa jadi teladan,” kata Ekalaya.
“Bagus kalau kamu mempunyai pendapat seperti itu. Asal kamu rajin belajar, kamu juga bisa seperti dia, bahkan mungkin melebihi,” kata Aswatama.
“Ah kamu berlebihan, mendaftar saja belum,” kata Ekalaya.
“Kalau begitu, mari kuantar menghadap ayahku,” ajak Aswatama.
Mereka berjalan beriringan menuju ruang Prof Durna. Rektor Universitas Sokalima itu terkejut ketika Aswatama masuk mengantar Ekalaya.
“Pak ini ada tamu dari Nisadha,” kata Aswatama.
“Silakan duduk, ada yang bisa saya bantu?” tanya sang profesor.
“Saya Ekalaya dari Nisadha ingin belajar di Padepokan Sokalima,” kata Ekalaya.
Resi Durna menatap tajam ke arah Ekalaya membuat yang ditatap menunduk berdebar-debar.
“Nisadha itu sebelah selatan Sungai Yamuna bukan?” tanya Resi Durna.
“Betul Prof.”
“Berarti bukan keluarga Bharata. Saya minta maaf. Universitas Sokalima ini hanya diperuntukkan bagi keluarga Bharata.”
“Kok bisa begitu?” tanya Ekalaya.
“Memang begitu peraturannya. Saya hanya sekedar menjalankan peraturan,” kata Resi Durna.
“Apakah tidak ada pengecualian untuk saya Prof?”
“Maaf saya tidak berani melanggar peraturan. Saya sebagai pimpinan di Sokalima harus bisa memberikan teladan,” kata Prof Durna.
“Bapa Resi, saya bersedia membayar berapa pun asal bisa diterima belajar di sini,” kata Ekalaya lagi.
“Maaf sekali lagi saya minta maaf. Saya tidak berani melanggar peraturan, bukan karena takut pada seseorang, tapi takut pada diri sendiri. Apalagi saya di sini sebagai panutan, harus ada kesamaan antara ucapan dengan tindakan,” kata Resi Durna.
Ruang hening, Ekalaya kemudian merasa tidak enak, maka dengan lesu ia keluar ruangan. Aswatama memandangi ayahnya., berbagai tanda tanya berkecamuk dalam kepala.
“Ssss ... jangan mematung seperti itu. Susul dia, tetapi hati-hati jangan sampai ada yang tahu. Tawari dia status mahasiswa jarak jauh, asal dia siap dengan biayanya,”kata Prof Durna sambil menyodorkan sobekan kertas ada tulisan angka 10 digit.
Wajah Aswatama berubah cerah, bergegas ia menyusul Ekalaya. Hal-hal seperti ini adalah bagian tugas Aswatama. Terbayang di matanya, apa saja yang akan dia beli jika Ekalaya bersedia membayar sesuai permintaan Resi Durna. Tentu saja semuanya harus secara rahasia.
Sementara itu, Ekalaya yang sudah terlanjur kecewa, sudah berada di mobilnya dan bergerak ke luar dari halaman kampus Universitas Sokalima. Meskipun kecewa karena keinginannya tidak terwujud, muncul pula rasa hormat kepada Resi Durna yang teguh memegang peraturan, meskipun diiming-imingi imbalan, tetap tidak mau melanggar peraturan. Bukan takut kepada orang yang membuat peraturan, tetapi ia takut pada dirinya sendiri.
“Sekarang ini, meskipun sudah dapat restu belum tentu bisa menduduki jabatan. Karena sebetulnya sudah bakan lagi zamannya restu-restuan ,” kata Ekalaya.
Dewi Anggraeni hanya diam. Ia memang pernah mendengar ada calon raja yang sudah mendapat restu raja sebelumnya, ternyata tidak bisa menduduki tahta. Dia juga pernah mendengar calon raja yang tidak direstui, tetapi berhasil menjadi raja itu, kemudian menuai petaka. Dikorek-korek kesalahannya, akhirnya berlanjut menjadi terdakwa.
“Namun, mengapa harus ke Astina?” tanya Anggraeni yang keberatan sang suami pergi jauh. Maklum pengantin baru.
“Aku mengejar kualitas. Sokalima merupakan universitas favorit, dikelola oleh Prof Dr Resi Kumbayana yang lebih akrab dengan sebutan Resi Durna. Bukan berarti aku tidak mencintai produk dalam negeri, tetapi kenyataannya belum ada yang bisa menandingi Universitas Sokalima. Maka biarlah aku pergi ke sana, supaya kelak ketika naik tahta aku sudah tidak canggung lagi,” kata Ekalaya.
Akhirnya Dewi Anggraeni tidak bisa lagi mencegah Kepergian suaminya. Ayahanda raja juga mendorong Raden Ekalaya untuk pergi ke Astina. Sejak dulu, orang tua Ekalaya memang selalu mencari lembaga pendidikan terbaik untuk anaknya. Berapa pun biayanya. Ekalaya sendiri berotak cerdas.
Maka berangkatlah Ekalaya ke Astina, dengan kendaraan pribadi, ongkos pribadi. Meskipun putra mahkota, calon raja, kalau kepentingan pribadi Ekalaya tidak mau menggunakan uang negara.
Sampailah Ekalaya di Astina dengan selamat. Langsung menuju kampus Sokalima. Ketika Ekalaya memarkir kendaraan, bersamaan dengan seorang mahasiswa berwajah tampan, trendy mengendarai mobil sport.
Ekalaya pernah melihat wajah itu di surat kabar, majalah dan televisi. Mahasiswa dengan prestasi menakjubkan dan sering muncul di televisi sebagai presenter dan pemain sinetron. Namanya Arjuna mahasiswa pasca sarjana Universitas Sokalima.
Dengan gaya seenaknya Arjuna turun dari mobil kemudian melangkah menuju ruang kuliah. Ekalaya memandangi punggung Arjuna dengan rasa kagum. Saat itulah dia mendengar suara dehem seseorang. Ketika Ekalaya menoleh ada seorang pemuda di dekatnya.
“Tampaknya kamu bukan mahasiswa Sokalima?” tanya pemuda itu.
“Saat ini belum, aku baru akan mendaftar pasca sarjana,” jawab Ekalaya sambil turun dari mobil.
“Semoga kamu diterima. Oh ya asalmu dari mana?” tanya pemuda itu lagi.
“Aku dari Nisadha. Kamu mahasiswa di sini, atau malah dosen?” Ekalaya balik bertanya.
“Ha ha ha memangnya aku bertampang akademis? Meskipun aku anak Prof Durna, tetapi otakku tumpul, maka aku hanya menjadi karyawan rendahan di sini,” kata pemuda itu.
“Ah jangan merendah seperti itu. Sebaiknya kita berkenalan lebih dahulu. Namaku Ekalaya putra mahkota Nisadha. Saya lulusan Fisipol Universitas Nisadha.”
“Namaku Bambang Aswatama hanya lulusan SMA. Nampaknya kamu mengagumi Arjuna?” tanya Awatama.
“Iya terkenal sampai negeriku,” jawab Ekalaya.
“Dia memang kebanggaan dan kesayangan ayahku. Namun di dunia ini tidak ada yang sempurna. Jadi kamu jangan berlebihan mengaguminya,” kata Awatama.
“Tapi setidak-tidaknya dia bisa jadi teladan,” kata Ekalaya.
“Bagus kalau kamu mempunyai pendapat seperti itu. Asal kamu rajin belajar, kamu juga bisa seperti dia, bahkan mungkin melebihi,” kata Aswatama.
“Ah kamu berlebihan, mendaftar saja belum,” kata Ekalaya.
“Kalau begitu, mari kuantar menghadap ayahku,” ajak Aswatama.
Mereka berjalan beriringan menuju ruang Prof Durna. Rektor Universitas Sokalima itu terkejut ketika Aswatama masuk mengantar Ekalaya.
“Pak ini ada tamu dari Nisadha,” kata Aswatama.
“Silakan duduk, ada yang bisa saya bantu?” tanya sang profesor.
“Saya Ekalaya dari Nisadha ingin belajar di Padepokan Sokalima,” kata Ekalaya.
Resi Durna menatap tajam ke arah Ekalaya membuat yang ditatap menunduk berdebar-debar.
“Nisadha itu sebelah selatan Sungai Yamuna bukan?” tanya Resi Durna.
“Betul Prof.”
“Berarti bukan keluarga Bharata. Saya minta maaf. Universitas Sokalima ini hanya diperuntukkan bagi keluarga Bharata.”
“Kok bisa begitu?” tanya Ekalaya.
“Memang begitu peraturannya. Saya hanya sekedar menjalankan peraturan,” kata Resi Durna.
“Apakah tidak ada pengecualian untuk saya Prof?”
“Maaf saya tidak berani melanggar peraturan. Saya sebagai pimpinan di Sokalima harus bisa memberikan teladan,” kata Prof Durna.
“Bapa Resi, saya bersedia membayar berapa pun asal bisa diterima belajar di sini,” kata Ekalaya lagi.
“Maaf sekali lagi saya minta maaf. Saya tidak berani melanggar peraturan, bukan karena takut pada seseorang, tapi takut pada diri sendiri. Apalagi saya di sini sebagai panutan, harus ada kesamaan antara ucapan dengan tindakan,” kata Resi Durna.
Ruang hening, Ekalaya kemudian merasa tidak enak, maka dengan lesu ia keluar ruangan. Aswatama memandangi ayahnya., berbagai tanda tanya berkecamuk dalam kepala.
“Ssss ... jangan mematung seperti itu. Susul dia, tetapi hati-hati jangan sampai ada yang tahu. Tawari dia status mahasiswa jarak jauh, asal dia siap dengan biayanya,”kata Prof Durna sambil menyodorkan sobekan kertas ada tulisan angka 10 digit.
Wajah Aswatama berubah cerah, bergegas ia menyusul Ekalaya. Hal-hal seperti ini adalah bagian tugas Aswatama. Terbayang di matanya, apa saja yang akan dia beli jika Ekalaya bersedia membayar sesuai permintaan Resi Durna. Tentu saja semuanya harus secara rahasia.
Sementara itu, Ekalaya yang sudah terlanjur kecewa, sudah berada di mobilnya dan bergerak ke luar dari halaman kampus Universitas Sokalima. Meskipun kecewa karena keinginannya tidak terwujud, muncul pula rasa hormat kepada Resi Durna yang teguh memegang peraturan, meskipun diiming-imingi imbalan, tetap tidak mau melanggar peraturan. Bukan takut kepada orang yang membuat peraturan, tetapi ia takut pada dirinya sendiri.

0 comments:
Post a Comment