Home » » Sumedi Melawan Harimau

Sumedi Melawan Harimau

Written By Fiksi Blog on Sunday, 17 November 2013 | 05:06

     Umur Sumedi sembilan tahun, mbelingnya bukan main. Sulit diatur. Tidak pernah mau membantu orang tuanya. Padahal emaknya sudah janda, harus membanting tulang menjadi buruh gendong di pasar. Hidup susah karena penghasilannya tidak seberapa. Tapi Sumedi tidak peduli, ia hanya menuruti kesenangannya sendiri, bermain dengan teman-temannya.
     Dulu ayah Sumedi kerjanya buruh tani, penghasilannya sedikit. Maka hanya bisa punya rumah reot di tepi hutan. Ayah Sumedi meninggal ketika Sumedi masih kecil, Kalau soal otaknya, Sumedi cukup cerdas. Tapi mbelingnya itu, tidak mau membantu pekerjaan emaknya di rumah, membuat emaknya kesal,jengkel. Emaknya menimba air sendiri, menyapu halaman, menyapu dalam rumah, memasak, mencuci sampai mencari dan membelah kayu bakar.
     Sampai kemudian, suatu hari emaknya sakit. Tidak bisa bekerja. Karena tidak bekerja maka tidak mendapat uang. Untungnya masih mempunyai sedikit simpanan bahan makanan. Masih ada yang bisa dimakan. Ternyata sakit emaknya sampai beberapa hari, sampai simpanan bahan makanan tinggal sedikit. Waktu itu Sumedi belum tergerak hatinya.
      Ia baru merasakan kerepotan emaknya, ketika akan berutang bahan makanan, pemilik warung tidak mau memberi. Takut emaknya tidak bisa membayar utang. Karena tidak boleh utang, kepala emak tambah pusing.  Ketika di sumur emak nyaris jatuh.
      “Maaak!” Untung Sumedi melihatnya, ia segera lari menghampiri, rasa iba muncul di hati anak itu. Untuk yang pertama kalinya Sumedi memapah emaknya masuk ke rumah. Untung tadi tidak sampai jatuh. Saat itulah ia merasa kasihan kepada emaknya dan tergugah hatinya.
      “Memang kasihan emakku. Tidak ada yang membantu, sementara aku malah enak-enak bermain,” begitu pikir Sumedi.
      Selain merasa kasihan, ia pun menjadi khawatir akan kesehatan emaknya, kalau tidak sembuh-sembuh bisa berakibat buruk. Ia menjadi takut jangan-jangan emaknya menyusul sang ayah, Sumedi tidak mau ditinggal sendirian.
      Agak lama ia merenung memikirkan emaknya. Sampai kemudian timbullah niat dalam hatinya untuk membantu. Ia menyesel selama ini hanya bersenang-senang, padahal emaknya harus bekerja keras sampai sakit. Sumedi memutar otak, apa yang bisa dikerjakan. Kalau saja mau membantu dari dulu, tentu emak tidak bekerja terlalu  kecapaian dan tidak jatuh sakit.
     “Aku harus membantu Emak mencari uang untuk membeli beras dan jamu,” kata Sumedi dalam hati.
      Setelah berpikir agak lama, dia menemukan akal. Di hutan, dia melihat banyak kayu kering berserakan, berasal dari dahan pohon. Sumedi punya pikiran kalau kayu-kayu itu dikumpulkan, diikat dibawa ke pasar tentu ada yang mau membeli . Biasanya emaknya juga masuk hutan mencari kayu bakar, tapi cuma sekadarnya asal cukup untuk sendiri.
     Tekad Sumedi sudah bulat, tanpa bilang emaknya, ia pergi. Bukan untuk bermain, tapi mencari kayu bakar di hutan. Tidak lupa membawa sebilah parang.
     Memang benar di hutan banyak banyak kayu kering berserakan. Anak ini mengumpulkannya. Parang yang ia bawa hanya untuk merapikan kayu-kayu supaya gampang diikat. Dia tidak berani memotong dahan atau ranting pepohonan. Meskipun mbeling Sumedi masih ingat cerit a emaknya. Kalau menebangi, memotongi pepohonan di hutan tanpa aturan bisa merusak hutan. Kalau hutan rusak, pepohonannya mati, hutannya jadi gundul, gampang menimbulkan bencana tanah longsor dan banjir.
      Sampai lewat tengah hari Sumedi mwengumpulkan kayu kering. Sudah cukup banyak. Ketika diikat, menjadi dua ikatan yang tiap ikatan sebesar pelukan orang dewasa. Kemudian Sumedi membuat alat pemikulnya dari kayu basah. Terpaksa Sumedi menebang salah satu dahan, tetapi ia memilih yang tidak mengakibatkan rusaknya pohon.
     Setelah selesai, Sumedi merasa capai. Haus bukan main. Ia memperhatikan sekelilingnya kalau-kalau ada buah yang bisa dimakan. Betul! Ia melihat pohon jambu kluthuk (jambu biji) yang buahnya lebat. Ada yang sudah masak tapi juga  banyak yang masih hijau mentah. Sumedi segera menghampiri dan memanjatnya. Mengambil yang sudah masak, memakannya di atas pohon. Lumayan untuk penawar dahaga. Mengurangi haus.

Sumedi Melawan Harimau
foto:kbku.blogspot.com

     Saat enak-enaknya ia menikmati jambu di atas pohon, tiba-tiba ia mendengar suara menggeram di bawah. Pohon jambu bergoyang-goyang. Ketika menengok ke bawah .... ngeri bukan main!
     “Hah, harimau? Mati aku!”

Sumedi Melawan Harimau
foto:getfreeartikel.wordpress.com
     Ternyata ada seekor harimau menunggu Sumedi, menggoyang-goyang pohon jambu itu agar Sumedi jatuh lalu menerkamnya. Sumedi takut bukan main, wajahnya pucat pasi. Harus mencari akal supaya selamat.
      Goyangan pohon semakin keras, Sumedi harus berpegangan erat. Beberapa buah jambu yang masak berjatuhan. Ternyata jatuhnya buah jambu memberi ilham pada Sumedi.
      Sumedi punya akal, ia petik buah yang masih mentah yang agak besar. Dengan sekuat tenaga ia lemparkan ke wajah harimau. Tepat mengenai mata kanannya. Harimau menggeram marah, kesakitan. Mata kanannya tidak bisa untuk melihat. Ia menggoyang pohon jambu makin keras. Kembali Sumedi melempar buah jambu mentah. Kali ini mengenai mata kirinya. Si harimau mengaum kesakitan. Sumedi terus menghujani dengan buah jambu mentah. Rupanya si harimau kesakitan dan ketakutan, lalu lari meninggalkan Sumedi. Karena matanya sakit, sulit untuk melihat si harimau menabrak-nabrak menambah sakitnya.
       Dengan masih gemetar, Sumedi turun dari pohon jambu. Cepat-cepat mengemasi kayunya, memikulnya dengan sempoyongan keluar dari hutan. Tubuhnya basah kuyup penuh keringat ketika sampai di pasar.
      Hari sudah sore. Melihat seorang anak umur sembilan tahun berjualan kayu bakar, memikulnya sempoyongan, berkali-kali berhenti karena berat, orang jadi iba. Seorang pemilik warung nasi membeli kayu Sumedi tanpa ditawar. Kemudian uang dari hasil menjual kayu, oleh Sumedi digunakan untuk membeli beras dan gula walau hanya dapat sedikit. Juga membeli jamu untuk mengobati emaknya.
     Sementara itu emaknya di rumah yang sedang sakit menjadi resah. Kepalanya tambah berdenyut. Anaknya seharian tidak kelihatan, ada rasa marah, tapi juga khawatir, karena hari mulai gelap.
     Ketika emaknya melihat Sumedi pulang membawa belanjaan, emaknya langsung marah, curiga. Menuduh Sumedi mencuri barang-barang itu dari warung. Dengan tertatih-tatih emaknya akan pergi ke pasar menanyakan hal itu kepada pemilik warung. Sumedi mencegahnya, ia menjelaskan dari mana memperoleh ssemua itu.
      Untunglah kemudian emaknya mau mendengarkan penjelasan Sumedi. Bahkan kemudian menangis haru dan mengucap syukur kepada Tuhan. Ternyata anaknya sudah terbuka hati dan pikirannya bahkan kini bisa memberikan bantuan yang cukup besar. Yang diinginkan emaknya hanya bantuan menyelesaikan pekerjaan  di rumah, ternayta malah Sumedi membantu mencarikan uang. Jamu yang dibawa Sumedi segera diminum. Mungkin karena rasa bahagia, rasaa bersyukur emaknya, memberi pengaruh pada jamu yang diminum.
      Manjur. Esok paginya. Emak Sumedi sudah segar kembali. Ketika bangun, ia mendengar Sumedi sedang menimba air mengisi genthong di dapur. (Naskah initulisan Warisman pernah dikirimkan ke harian Suara Merdeka dan dimuat pada rubrik Dongeng Nina Bobo Minggu 3 Oktober 1993 halaman IV).                                          


Share this article :

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

 
Support : Blog SEO Adsense | Galeri Bola
Copyright © 2014. Fiksi Blog - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger Edited by Warisman