Umur Sumedi sembilan tahun, mbelingnya
bukan main. Sulit diatur. Tidak pernah mau membantu orang tuanya. Padahal
emaknya sudah janda, harus membanting tulang menjadi buruh gendong di pasar.
Hidup susah karena penghasilannya tidak seberapa. Tapi Sumedi tidak peduli, ia
hanya menuruti kesenangannya sendiri, bermain dengan teman-temannya.
Dulu ayah Sumedi kerjanya buruh tani,
penghasilannya sedikit. Maka hanya bisa punya rumah reot di tepi hutan. Ayah
Sumedi meninggal ketika Sumedi masih kecil, Kalau soal otaknya, Sumedi cukup
cerdas. Tapi mbelingnya itu, tidak mau membantu pekerjaan emaknya di rumah,
membuat emaknya kesal,jengkel. Emaknya menimba air sendiri, menyapu halaman,
menyapu dalam rumah, memasak, mencuci sampai mencari dan membelah kayu bakar.
Sampai kemudian, suatu hari emaknya sakit.
Tidak bisa bekerja. Karena tidak bekerja maka tidak mendapat uang. Untungnya
masih mempunyai sedikit simpanan bahan makanan. Masih ada yang bisa dimakan.
Ternyata sakit emaknya sampai beberapa hari, sampai simpanan bahan makanan
tinggal sedikit. Waktu itu Sumedi belum tergerak hatinya.
Ia baru merasakan kerepotan emaknya,
ketika akan berutang bahan makanan, pemilik warung tidak mau memberi. Takut
emaknya tidak bisa membayar utang. Karena tidak boleh utang, kepala emak tambah
pusing. Ketika di sumur emak nyaris
jatuh.
“Maaak!” Untung Sumedi melihatnya, ia
segera lari menghampiri, rasa iba muncul di hati anak itu. Untuk yang pertama
kalinya Sumedi memapah emaknya masuk ke rumah. Untung tadi tidak sampai jatuh.
Saat itulah ia merasa kasihan kepada emaknya dan tergugah hatinya.
“Memang kasihan emakku. Tidak ada yang
membantu, sementara aku malah enak-enak bermain,” begitu pikir Sumedi.
Selain merasa kasihan, ia pun menjadi
khawatir akan kesehatan emaknya, kalau tidak sembuh-sembuh bisa berakibat
buruk. Ia menjadi takut jangan-jangan emaknya menyusul sang ayah, Sumedi tidak
mau ditinggal sendirian.
Agak lama ia merenung memikirkan emaknya.
Sampai kemudian timbullah niat dalam hatinya untuk membantu. Ia menyesel selama
ini hanya bersenang-senang, padahal emaknya harus bekerja keras sampai sakit.
Sumedi memutar otak, apa yang bisa dikerjakan. Kalau saja mau membantu dari
dulu, tentu emak tidak bekerja terlalu
kecapaian dan tidak jatuh sakit.
“Aku harus membantu Emak mencari uang
untuk membeli beras dan jamu,” kata Sumedi dalam hati.
Setelah berpikir agak lama, dia menemukan
akal. Di hutan, dia melihat banyak kayu kering berserakan, berasal dari dahan
pohon. Sumedi punya pikiran kalau kayu-kayu itu dikumpulkan, diikat dibawa ke
pasar tentu ada yang mau membeli . Biasanya emaknya juga masuk hutan mencari
kayu bakar, tapi cuma sekadarnya asal cukup untuk sendiri.
Tekad Sumedi sudah bulat, tanpa bilang
emaknya, ia pergi. Bukan untuk bermain, tapi mencari kayu bakar di hutan. Tidak
lupa membawa sebilah parang.
Memang benar di hutan banyak banyak kayu
kering berserakan. Anak ini mengumpulkannya. Parang yang ia bawa hanya untuk
merapikan kayu-kayu supaya gampang diikat. Dia tidak berani memotong dahan atau
ranting pepohonan. Meskipun mbeling Sumedi masih ingat cerit a emaknya. Kalau
menebangi, memotongi pepohonan di hutan tanpa aturan bisa merusak hutan. Kalau
hutan rusak, pepohonannya mati, hutannya jadi gundul, gampang menimbulkan
bencana tanah longsor dan banjir.
Sampai lewat tengah hari Sumedi
mwengumpulkan kayu kering. Sudah cukup banyak. Ketika diikat, menjadi dua
ikatan yang tiap ikatan sebesar pelukan orang dewasa. Kemudian Sumedi membuat
alat pemikulnya dari kayu basah. Terpaksa Sumedi menebang salah satu dahan,
tetapi ia memilih yang tidak mengakibatkan rusaknya pohon.
Setelah selesai, Sumedi merasa capai. Haus
bukan main. Ia memperhatikan sekelilingnya kalau-kalau ada buah yang bisa
dimakan. Betul! Ia melihat pohon jambu kluthuk
(jambu biji) yang buahnya lebat. Ada yang sudah masak tapi juga banyak yang masih hijau mentah. Sumedi segera
menghampiri dan memanjatnya. Mengambil yang sudah masak, memakannya di atas
pohon. Lumayan untuk penawar dahaga. Mengurangi haus.
![]() |
| foto:kbku.blogspot.com |
Saat enak-enaknya ia menikmati jambu di
atas pohon, tiba-tiba ia mendengar suara menggeram di bawah. Pohon jambu
bergoyang-goyang. Ketika menengok ke bawah .... ngeri bukan main!
“Hah, harimau? Mati aku!”
![]() |
| foto:getfreeartikel.wordpress.com |
Ternyata ada seekor harimau menunggu
Sumedi, menggoyang-goyang pohon jambu itu agar Sumedi jatuh lalu menerkamnya.
Sumedi takut bukan main, wajahnya pucat pasi. Harus mencari akal supaya
selamat.
Goyangan pohon semakin keras, Sumedi
harus berpegangan erat. Beberapa buah jambu yang masak berjatuhan. Ternyata
jatuhnya buah jambu memberi ilham pada Sumedi.
Sumedi punya akal, ia petik buah yang
masih mentah yang agak besar. Dengan sekuat tenaga ia lemparkan ke wajah
harimau. Tepat mengenai mata kanannya. Harimau menggeram marah, kesakitan. Mata
kanannya tidak bisa untuk melihat. Ia menggoyang pohon jambu makin keras.
Kembali Sumedi melempar buah jambu mentah. Kali ini mengenai mata kirinya. Si
harimau mengaum kesakitan. Sumedi terus menghujani dengan buah jambu mentah.
Rupanya si harimau kesakitan dan ketakutan, lalu lari meninggalkan Sumedi.
Karena matanya sakit, sulit untuk melihat si harimau menabrak-nabrak menambah
sakitnya.
Dengan masih gemetar, Sumedi turun dari
pohon jambu. Cepat-cepat mengemasi kayunya, memikulnya dengan sempoyongan
keluar dari hutan. Tubuhnya basah kuyup penuh keringat ketika sampai di pasar.
Hari sudah sore. Melihat seorang anak
umur sembilan tahun berjualan kayu bakar, memikulnya sempoyongan, berkali-kali
berhenti karena berat, orang jadi iba. Seorang pemilik warung nasi membeli kayu
Sumedi tanpa ditawar. Kemudian uang dari hasil menjual kayu, oleh Sumedi
digunakan untuk membeli beras dan gula walau hanya dapat sedikit. Juga membeli
jamu untuk mengobati emaknya.
Sementara itu emaknya di rumah yang sedang
sakit menjadi resah. Kepalanya tambah berdenyut. Anaknya seharian tidak
kelihatan, ada rasa marah, tapi juga khawatir, karena hari mulai gelap.
Ketika emaknya melihat Sumedi pulang
membawa belanjaan, emaknya langsung marah, curiga. Menuduh Sumedi mencuri
barang-barang itu dari warung. Dengan tertatih-tatih emaknya akan pergi ke
pasar menanyakan hal itu kepada pemilik warung. Sumedi mencegahnya, ia
menjelaskan dari mana memperoleh ssemua itu.
Untunglah kemudian emaknya mau mendengarkan
penjelasan Sumedi. Bahkan kemudian menangis haru dan mengucap syukur kepada
Tuhan. Ternyata anaknya sudah terbuka hati dan pikirannya bahkan kini bisa
memberikan bantuan yang cukup besar. Yang diinginkan emaknya hanya bantuan
menyelesaikan pekerjaan di rumah,
ternayta malah Sumedi membantu mencarikan uang. Jamu yang dibawa Sumedi segera
diminum. Mungkin karena rasa bahagia, rasaa bersyukur emaknya, memberi pengaruh
pada jamu yang diminum.
Manjur. Esok paginya. Emak Sumedi sudah
segar kembali. Ketika bangun, ia mendengar Sumedi sedang menimba air mengisi genthong di dapur. (Naskah initulisan Warisman pernah dikirimkan ke harian Suara Merdeka
dan dimuat pada rubrik Dongeng Nina Bobo Minggu 3 Oktober 1993 halaman IV).


0 comments:
Post a Comment