![]() |
| Etikasihat.blogspot.com |
Sampai kemudian datanglah sepasang suami istri petani melamar agar salah seorang dari tujuh puteri itu bersedia jadi menantunya. Dikawinkan dengan anak tunggal petani itu yang bernama Nya Lepang (si katak). Sudah barang tentu Lala Intan mencacinya habis-habisan. Apalagi anak tunggal petani itu manusia, tetapi katak besar (bahasa Sumbawanya Lepang). Jangankan katak, sedangkan manusia saja meskipun mempunyai berbagai kelebihan kalau bukan raja atau putra mahkota pasti ditolak.
Sebetulnya sepasang suami istri petani itu sebelum berangkat sudah memastikan, lamarannya akan ditolak. Tetapi karena Nya Lepang mendesak orang tuanya, suami istri itu dengan menebalkan muka melamar putri-putri cantik tersebut. Dan kenyataannya memang ditolak serta dicaci maki habis-habisan. Melihat keadaan itu, hati Bidaleksana tersentuh. Ia merasa kasihan kepada sepasang suami istri itu.
“Baiklah Bapak dan Ibu, lamaran itu aku terima,” kata Bidaleksana dengan lembut.
Sepasang suami istri itu terkejut setengah tidak percaya kepada ucapan gadis itu. Baru yakin setelah putri cantik itu mengulangi ucapannya. Yang lebih terkejut lagi Lala Intan. Ia memarahi habis-habisan adik bungsunya itu. Kemudian mencari akal agar perkawinan itu batal.
“Bapak dan Ibu. Aku ini saudara tertua Lala Bidaleksana. Karena kedua orang tua kami sudah meninggal, maka akulah yang menjadi gantinya. Maka dari itu, akulah yang menetapkan syarat perkawinannya. Adikku ini kuizinkan menikah dengan putra Bapak dan Ibu yang berupa seekor katak, tapi dengan syarat. Adikku ini harus dijemput dengan kereta kencana. Kereta kebesaran seorang pangeran, dan harus diiringi oleh seribu orang prajurit kehormatan,” kata Lala Intan dengan sinis dan dongkol.
Suami istri petani itu kemudian minta diri. Hatinya yang semula sudah senang, kembali menjadi sedih. Syarat yang diajukan mustahil bisa dilaksanakan oleh suami istri itu. Lala Intan sendiri juga sudah memastikan suami istri itu tidak akan bisa memenuhi.
Sesampainya di rumah suami istri itu dengan sedih menceriakan pengalamannya melamar putri-putri jelita itu. Menceritakan pula syarat perkawinannya.
“Jangan khawatir, syarat itu pasti aku penuhi,” begitu Nya Lepang menjawab dengan mantap.
Sedang kedua orang tuanya sudah pasrah, tidak mungkin syarat itu bisa mereka penuhi. Apalagi Nya Lepang yang hanya ujud seekor katak, sedang orang tuanya meskipun petani kaya, tidak akan mampu.
Tetapi keajaiban datang,. Keesokan harinya, ternyata di depan rumah petani itu sudah siap sebuah kereta kebesaran yang ditarik oleh empat ekor kuda tegap. Disamping itu seribu orang prajurit kehormatan juga sudah siap mengiringinya. Suami istri itu tidak tahu kalau Nya Lepang semalaman melakukan samadi, suami istri itu tidak tahu kalau Nya Lepang menyimpan kesaktian.
Setelah semuanya siap, Nya Lepang dibawa masuk ke dalam kereta kebesaran itu. Diberi pakaian gemerlap kayaknya seorang pangeran. Beberapa perhiasan dari emas juga sudah siap di dalam kereta untuk dihadiahkan kepada Bidaleksana. Orang tua Nya Lepang hanya memandang penuh keheranan, namun kemudian mereka ingat, segera melakukan sujud syukur kepada Tuhan memuji kebesarannya.
Ketika iring-iringan Nya Lepang sampai di tempat kediaman gadis itu, Lala Intan terkejut dan dongkol sekali. Mau tidak mau perkawinan harus dilangsungkan. Jalannya pesta perkawinan itu sendiri meriah, meskipun terasa janggal, karena seorang gadis bersanding dengan seekor katak besar.
Setelah pesta perkawinan usai, prajurit dan kereta kencana itu pergi entah ke mana, tidak ada yang tahu. Malam sudah sepi. Tinggal Lala Bidaleksana dan Nya Lepang di kamar pengantin.
“Kalau engkau capai, tidurlah, aku belum mengantuk,” kata Nya Lepang.
Entah karena pengaruh apa, mendengar kata-kata suaminya. Bidaleksana langsung merasa mengantuk, kemudian jatuh tertidur. Tetapi belum lama ia tertidur, ia kaget dan terbangun karena merasa ada yang mengusap pipinya.
“Oh siapa Tuan?” tanya Lala Bidaleksana penuh ketakutan.
Di depannya berdiri seorang pemuda dengan pakaian seorang pangeran. Wajahnya tampan dan berbadan tegap.
“Aku suamimu,” jawab lelaki itu sambil tersenyum.
“Suamiku Nya Lepang, seekor katak,” kata Bidaleksana.
Pemuda itu kemudian menerangkan dirinyalah Nya Lepang itu. Karena dulu ayahnya keliru ucap ketika memohon diberi anak. Ayahnya terlanjur mengucapkan permohonan kepada Tuhan supaya segera diberi anak sekalipun itu seekor katak. Orang tuanya memang sudah lama ingin punya anak. Karena ayahnya emosi dalam mengajukan permohonan, maka Tuhan menganugerahkan anak berujud seekor katak. Tetapi Tuhan itu Maha Penyayang. Ujud katak itu hanya pakaian. Tanpa setahu siapapun, Nya Lepang kalau malam berubah menjadi manusia, sedang kalau siang masuk ke dalam kantong katak.
Sudah barang tentu Lala Bidaleksana tidak langsung peraya, maka Nya Lepang menunjukkan buktinya. Sebuah kantong berujud seekor katak. Ketika Nya Lepang masuk kantong, ujud manusia hilang yang ada seekor katak besar. Barulah Lala Bidaleksana percaya. Kalau siang bersanding dengan katak kalau malam dengan pria tegap dan tampan.
Tetapi kemudian timbul dalam pikiran Lala Bidaleksana, ia ingin agar suaminya tetap berujud manusia. Maka, ketika suami malam suaminya lengah, tertidur nyenyak, kantong katak itu dibakar. Esok paginya Nya Lepang tidak bisa berubah ujud menjadi katak. Ia tetap berujud manusia.
Kemudian Nya Lepang berwajah tampan itu, dengan modal kesaktiannya mengabdi menjadi prajurit di Kerajaan Sumbawa. Dan karena jasa-jasanya, ia diangkat menjadi raja kecil di daerahnya. Lala Bidaleksana menjadi permaisurinya. Nya Lepang sendiri kemudian berganti nama Lalu Inu Kertapati.
Sudah barang tentu, ini membuat Lala Intan dan semua saudaranya semakin benci kepadanya. Maka kemudian kakak tertua itu membuat rencana untuk membunuh Lala Bidaleksna dengan maksud agar kemudian mereka diperistri oleh Lalu Inu Kertapati.
Dengan tipu muslihat, Lala Intan dan adik-adiknya menceburkan Lala Bidaleksana ke laut. Teetapi Tuhan tidak menyukai perbuatan jahat. Tuhan menolong Lala Bidaleksana. Prajurit-prajurit Lalu Inu Kertapati memergoki ketika Lala Intan dan adik-adiknya menceburkan Lala Bidaleksana ke laut. Prajurit-prajurit itu kemudian menolongnya.
Karena kesalahan yang diperbuat, Lala Intan dan adik-adiknya akan dihukum pancung. Tetapi Bidaleksana memina kepada suaminya agar kakak-kakaknya jangan dibunuh.***(Naskah ini pernah saya kirimkan ke Redaksi Suara Merdeka dan dimuat dalam rubrik Dongeng Nina Bobo Minggu 6 Februari 1994)

0 comments:
Post a Comment