Home » » Seandainya Tidak Terlambat Bangun

Seandainya Tidak Terlambat Bangun

Written By Fiksi Blog on Wednesday, 20 November 2013 | 06:24

          Ketika bangun, Anto kaget. Jarum jam menunjukkan pukul enam pagi kurang seperempat. Anto bergegas turun dari ranjang, lalu lari ke dapur. Ternyata yang terlambat bangun bukan hanya dia, tapi seisi rumah itu. Anto menuju kamar tempat ayah dan ibunya tidur. Ia gedor pintunya dengan keras.
          “Bu! Sudah siang Bu, nanti aku terlambat!” teriak Anto keras.
          “He sudah siang! Aduh belum salat Subuh!” terdengar suara Ibu Anto dari dalam kamar.
          “Pukul berapa kumpulnya To?” tanya Ayah.
          “Enam!” jawab Anto sambil suaranya mulai setengah terisak.
          Pagi itu, Anto akan berwisata dengan teman-temannya. Mereka mengunjungi objek wisata Jawa Tengah bagian barat daya. Anto dan teman-temannya mencarter  minibus. Dalam perjanjian siapa yang pukul enam pagi belum datang ditinggal.
         “Salat dulu, lalu langsung ke rumah Budi siapa tahu belum ketinggalan,” kata Ayah Anto.
         “Tapi bekalnya belum disiapkan,” kata Anto.
         “Sudahlah salat dulu. Bekal biar ibu yang menyiapkan,” kata Ibu Anto.
         Anto terlambat bangun karena menonton siaran langsung Piala Dunia. Seisi rumah tidak tidur karena menonton acara itu, sehingga terlambat bangun pagi. Sebelumnya Anto sudah diingatkan tetapi nekat tetap nonton.
       Ayah pun buru-buru mengantar Anto ke tempat teman-temannya berkumpul. Namun rupanya teman-temannya telah berangkat. Anto ditinggal karena terlambat. Akibatnya, Anto bersungut-sungut. Dengan kesal, Anto pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan pulang, Ayah menghibur Anto.
      Sepanjang hari, Anto tampak cemberut. Ia tidak berselera menonton televisi. Padahal biasanya, Anto termasuk yang paling betah kalau duduk di depan pesawat televisi. Hari itu Anto tidur seharian.
       Sehabis salat Magrib, Anto masih  belum  nampak ceria. Ia duduk diam di depan pesawat televisi. Mira dari tadi meledek Anto. Tapi Anto tetap tidak berubah, ia masih merasa kesal dengan diri sendiri dan entah kepada siapa, kenapa sampai terlambat bangun.
        Tapi kemudian, semuanya berubah ketika Ayah Anto pulang dari masjid.
        “To untung kita terlambat bangun. Ini betul-betul rahasia Tuhan yang kita tidak tahu. Kita wajib bersyukur,” kata Ayah Anto.
        “Ada apa Pak?” tanya Ibu Anto.
Seandainya Tidak Terlambat Bangun
Foto: Alpamp3.blogspot.com
         “Bus yang dipakai untuk berwisata anak-anak mengalami kecelakaan. Sopirnya ngantuk, mobilnya masuk sungai,” kata Ayah Anto.
          Anto dan Ibu terperanjat.
          “Untungnya anak-anak hanya cedera, tapi ada yang cedera agak berat, sedang sopirnya, ada kemungkinan besok tidak bisa menyopir lagi. Salah satu kakinya katanya patah. Semuanya sekarang berada di rumah sakit Purwokerto. Kita bersyukur bukan mensyukuri kecelakaan itu, tapi kita mensyukuri perlindungan Allah, dengan membuat kita terlambat bangun,” kata Ayah Anto.
         Ya seandainya seisi rumah Anto tidak terlambat bangun, seandainya Anto jadi ikut pesiar, Anto ikut mengalami kecelakaan itu. Meskipun misalnya hanya cedera ringan, tapi tentu merupakan hal yang tidak enak, tidak menyenangkan. Anto mensyukuri terlambatnya bangun. Seandainya tidak terlambat bangun, entahlah apa yang dialaminya.*** (Naskah ini pernah saya kirimkan ke Redaksi Harian Republika dan dimuat pada Republika no 225/th II Minggu 28 Agustus 1994 pada rubrik Koran Kecil ).
Share this article :

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

 
Support : Blog SEO Adsense | Galeri Bola
Copyright © 2014. Fiksi Blog - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger Edited by Warisman