Putri Mayang Cinde
(Cerita Rakyat Jawa Barat)
Mendadak langit berubah menjadi
gelap, mendung dari arah selatan dengan cepat bergerak ke utara. Angin bertiup
semakin kencang. Ombak pun membesar bergulung-gulung dari arah selatan. Nelayan
di laut selatan Pajajaran kebingungan, mereka segara mengarahkan perahunya
pulang, agar terhindar dari gelombang.
Untunglah mereka dengan sigap bisa
segera mencapai pantai sehingga terhindar dari marabahaya. Tetapi kemudian
orang-orang menjadi cemas, ternyata masih ada satu perahu yang berada di tengah
laut. Sebab melaut terlalu ke selatan sehingga tidak bisa segera mencapai
pantai. Padahal mendung sudah semakin pekat, angin bertiup semakin kencang dan ombak
semakin ganas menghempas.
![]() |
| Credit Foto: bandung.panduanwisata.com |
Para nelayan yang berada di perahu di
tengah laut itu sudah pucat pasi semua. Ketakutan. Di saat para nelayan itu
sudah putus asa, di depan mereka nampak seorang putri berjalan di atas air
menghampiri mereka. Para nelayan semakin ketakutan, mereka memastikan itu
makhluk halus yang akan berbuat jahat terhadap mereka. Ketika putri cantik
seperti putri raja itu mendekat, para nelayan merasa seperti pernah melihat.
“Putri Kadita?” hampir berbarengan para
nelayan itu menyebutkan nama putri Pajajaran.
“Aku bukan Putri Kadita, aku tidak kenal
siapa Putri Kadita itu. Sudahlah Paman, kalian tidak perlu tanya siapa aku,
yang penting kalian bisa aku selamatkan,” putri cantik itu kemudian melemparkan
selendangnya ke arah perahu.
Ajaib. Selendang itu langsung melilit
seluruh tubuh perahu. Kemudian dengan tenangnya putri itu menyeret perahu
tersebut. Lima orang nelayan dalam perahu itu hanya bengong, juga takut. Tapi
melihat arah perahu itu menuju ke pantai, rasa takut para nelayan itu sedikit
demi sedikit hilang. Sampai kemudian, perahu benar-benar mendarat di pantai.
Putri cantik itu lalu menghilang.
Bagai tergagap para nelayan itu,
setelah sadar bergegas turun dari perahu naik ke daratan. Orang-orang di pantai
bersorak gembira, menyambut yang baru saja terlepas dari bahaya. Tidak lupa
para nelayan yang baru terlepas dari bahaya bercerita , perahu mereka ditolong
oleh seorang putri yang segala-galanya mirip dengan Putri Kadita.
***
Putri Kadita adalah putri raja
Pajajaran yang kemudian menghilang bersama ibunya entah ke mana. Rakyat
mengenal Putri Kadita sebagai putri yang suka menolong, baik hati disamping
wajahnya cantik. Rakyat menghormatinya, menyayanginya. Pendek kata semua warga
Pajajaran menyukai dan menyayangi Putri
Kadita. Maka tidak mengherankan kalau ada yang menjadi iri. Yang iri seorang
selir yang kebetulan juga mempunyai seorang putri. Selir itu merasa tidak
diperhatikan oleh Baginda maupun rakyat Pajajaran, karena ada Putri Kadita.
Entah karena apa, suatu hari, Putri
Kadita dan permaisuri menderita sakit kulit di sekujur tubuhnya, termasuk
wajahnya. Maka wajah mereka menjadi buruk, disamping itu baunya juga tidak
enak. Selir-selir Baginda menjauhinya, bahkan mencemoohkannya. Mungkin karena
tidak tahan, permaisuri dan Putri Kadita kemudian pergi dari istana. Baginda
merasa sedih, semua rakyat Pajajaran
juga merasa kehilangan. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah lama tidak kedengaran dan tidak
diketahui di mana rimbanya, tiba-tiba ada nelayan yang ditolong oleh putri cantik
mirip Putri Kadita. Maka kejadian itu oleh para nelayan dilaporkan kepada
Baginda Raja.
Ternyata Baginda tertarik. Maka kemudian
mengajak seluruh punggawa dan kerabat istana pergi ke pantai selatan, membawa
sesajian lengkap. Baginda bersamadi mengundang putri cantik yang ada di laut
tersebut.
Tidak lama setelah sesaji dilabuh ke
laut, ombak berdebur keras tapi hanya di seputar sesaji. Kemudian muncullah
seorang putri cantik berdiri di atas air laut.
“Kadita anakku!” seru Baginda.
“Tetaplah di situ Baginda,” kata putri
tersebut ketika Baginda hendak mencebur ke laut menghampiri sang putri.
Tiba-tiba putri cantik itu matanya
basah, ia menangis. Air matanya meleleh di pipi.
“Benar Ayahanda, hamba adalah Putri
Kadita.”
Kepada para nelayan putri itu
berbohong, tetapi kepada Baginda ayahnya
sendiri, ia tidak kuasa untuk tidak mengaku.
“Kalau begitu, mari pulang ke istana,”
ajak Sri Baginda.
“Ampun Ayahanda, kini alam kita
berbeda. Hamba tidak mungkin lagi hidup di alam nyata. Hamba sekarang hidup di
alam halus di sepanjang pantai selatan Pajajaran. Nama hamba sekarang Nyi
Mayang Cinde.”
“Oh anakku, kenapa sampai demikian? Lalu
di mana ibumu?”
“Ayahanda, semua sudah terjadi. Hamba
dan Ibu menderita sakit kulit, pergi ke hutan, hidup sengsara di sana. Sampai
kemudian Ibu meninggal. Ini semua karena ada yang memfitnah. Ada yang
menggunakan ilmu teluh untuk mencelakakan hamba dan Ibunda. Untung hamba
ditolong oleh Batara Baruna, hamba diminta membantu menjaga pantai selatan
Pajajaran. Hamba dapat berujud seperti semula, tapi hanya di alam halus, karena
badan kasar hamba sudah rusak, dikubur. Hamba tahu siapa yang memfitnah.”
“Siapa sebutkan anakku, biar nanti
ayahanda menghukumnya,” kata Baginda.
“Sudahlah Ayahanda hamba tidak akan
membalas dendam. Hamba sudah memaafkannya asal tidak mengulanginya pada orang
lain,” kata Nyi Mayang Cinde.
Dari dulu Putri Kadita dikenal baik budi,
Baginda dan para punggawa bisa memahami kalau Putri Kadita tidak ingin membalas
dendam. Meskipun Baginda dan para punggawa ingin menghukum orang yang memfitnah
Putri Kadita, tetapi karena putri itu tidak mau menunjukkan siapa yang
memfitnahnya mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
“Sekarang ini, hamba menguasai pantai
selatan Pajajaran. Hamba akan menjaga setiap nelayan Pajajaran yang mencari
ikan, asal mereka berbuat baik, tidak melanggar aturan negara dan kepercayaan
yang dianutnya. Itulah pesan hamba. Nah Ayahanda, hamba sudah terlalu lama
menampakkan diri di mayapada ini, hamba akan segera kembali ke kahyangan,” kata
Nyi Mayang Cinde.
Setelah Nyi Mayang Cinde lenyap dari
pandangan, dengan perasaan sedih Baginda pulang ke istana. Kabar itu segera
tersebar ke seluruh negeri Pajajaran. Selir Baginda yang membenci Putri Kadita
mendengar kabar itu menyesali perbuatannya. Ia dulu minta bantuan dukun untuk
meneluh Putri Kadita dan permaisuri sehingga menderita sakit kulit.
Selir itu lalu menghadap Sri Baginda
mengakui perbuatannya. Waktu itu Sri Baginda akan menjatuhkan hukuman,
tiba-tiba muncullah Nyi Mayang Cinde meminta agar Sri Baginda tidak menghukum
selir itu, karena Nyi Mayang Cinde sudah memaafkannya. Setelah Baginda menuruti
kehendak Nyi Mayang Cinde, putri itu kemudian kembali ke kahyangan di laut
selatan. Sedang tempat Nyi Mayang Cinde menolong nelayan, sekarang disebut
pantai Pelabuhan Ratu.***(Diceritakan kembali oleh WarismanNaskah ini
pernah di kirimkan ke Redaksi Harian Suara Merdeka dan dimuat Minggu 21
November 1993 pada rubrik Dongeng Nina Bobo.)


0 comments:
Post a Comment