Home » » Putri Mayang Cinde

Putri Mayang Cinde

Written By Fiksi Blog on Monday, 11 November 2013 | 07:13



                         Putri Mayang Cinde
                     (Cerita Rakyat Jawa Barat)
                     
           Mendadak langit berubah menjadi gelap, mendung dari arah selatan dengan cepat bergerak ke utara. Angin bertiup semakin kencang. Ombak pun membesar bergulung-gulung dari arah selatan. Nelayan di laut selatan Pajajaran kebingungan, mereka segara mengarahkan perahunya pulang, agar terhindar dari gelombang.

 
Putri Mayang Cinde
Credit Foto: www.sukabumi-news.com
            Untunglah mereka dengan sigap bisa segera mencapai pantai sehingga terhindar dari marabahaya. Tetapi kemudian orang-orang menjadi cemas, ternyata masih ada satu perahu yang berada di tengah laut. Sebab melaut terlalu ke selatan sehingga tidak bisa segera mencapai pantai. Padahal mendung sudah semakin pekat, angin bertiup semakin kencang dan ombak semakin ganas menghempas. 

Putri Mayang Cinde
Credit Foto: bandung.panduanwisata.com
        Para nelayan yang berada di perahu di tengah laut itu sudah pucat pasi semua. Ketakutan. Di saat para nelayan itu sudah putus asa, di depan mereka nampak seorang putri berjalan di atas air menghampiri mereka. Para nelayan semakin ketakutan, mereka memastikan itu makhluk halus yang akan berbuat jahat terhadap mereka. Ketika putri cantik seperti putri raja itu mendekat, para nelayan merasa seperti pernah melihat.
       “Putri Kadita?” hampir berbarengan para nelayan itu menyebutkan nama putri Pajajaran.
      “Aku bukan Putri Kadita, aku tidak kenal siapa Putri Kadita itu. Sudahlah Paman, kalian tidak perlu tanya siapa aku, yang penting kalian bisa aku selamatkan,” putri cantik itu kemudian melemparkan selendangnya ke arah perahu.
       Ajaib. Selendang itu langsung melilit seluruh tubuh perahu. Kemudian dengan tenangnya putri itu menyeret perahu tersebut. Lima orang nelayan dalam perahu itu hanya bengong, juga takut. Tapi melihat arah perahu itu menuju ke pantai, rasa takut para nelayan itu sedikit demi sedikit hilang. Sampai kemudian, perahu benar-benar mendarat di pantai. Putri cantik itu lalu menghilang.
          Bagai tergagap para nelayan itu, setelah sadar bergegas turun dari perahu naik ke daratan. Orang-orang di pantai bersorak gembira, menyambut yang baru saja terlepas dari bahaya. Tidak lupa para nelayan yang baru terlepas dari bahaya bercerita , perahu mereka ditolong oleh seorang putri yang segala-galanya mirip dengan Putri Kadita.
                                                ***
          Putri Kadita adalah putri raja Pajajaran yang kemudian menghilang bersama ibunya entah ke mana. Rakyat mengenal Putri Kadita sebagai putri yang suka menolong, baik hati disamping wajahnya cantik. Rakyat menghormatinya, menyayanginya. Pendek kata semua warga Pajajaran menyukai dan menyayangi  Putri Kadita. Maka tidak mengherankan kalau ada yang menjadi iri. Yang iri seorang selir yang kebetulan juga mempunyai seorang putri. Selir itu merasa tidak diperhatikan oleh Baginda maupun rakyat Pajajaran, karena ada Putri Kadita.
        Entah karena apa, suatu hari, Putri Kadita dan permaisuri menderita sakit kulit di sekujur tubuhnya, termasuk wajahnya. Maka wajah mereka menjadi buruk, disamping itu baunya juga tidak enak. Selir-selir Baginda menjauhinya, bahkan mencemoohkannya. Mungkin karena tidak tahan, permaisuri dan Putri Kadita kemudian pergi dari istana. Baginda merasa sedih, semua rakyat  Pajajaran juga merasa kehilangan. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
       Setelah lama tidak kedengaran dan tidak diketahui di mana rimbanya, tiba-tiba ada nelayan yang ditolong oleh putri cantik mirip Putri Kadita. Maka kejadian itu oleh para nelayan dilaporkan kepada Baginda Raja.
       Ternyata Baginda tertarik. Maka kemudian mengajak seluruh punggawa dan kerabat istana pergi ke pantai selatan, membawa sesajian lengkap. Baginda bersamadi mengundang putri cantik yang ada di laut tersebut.
        Tidak lama setelah sesaji dilabuh ke laut, ombak berdebur keras tapi hanya di seputar sesaji. Kemudian muncullah seorang putri cantik berdiri di atas air laut.
        “Kadita anakku!” seru Baginda.
         “Tetaplah di situ Baginda,” kata putri tersebut ketika Baginda hendak mencebur ke laut menghampiri sang putri.
        Tiba-tiba putri cantik itu matanya basah, ia menangis. Air matanya meleleh di pipi.
        “Benar Ayahanda, hamba adalah Putri Kadita.”
        Kepada para nelayan putri itu berbohong, tetapi kepada Baginda ayahnya   sendiri, ia tidak kuasa untuk tidak mengaku.
        “Kalau begitu, mari pulang ke istana,” ajak Sri Baginda.
        “Ampun Ayahanda, kini alam kita berbeda. Hamba tidak mungkin lagi hidup di alam nyata. Hamba sekarang hidup di alam halus di sepanjang pantai selatan Pajajaran. Nama hamba sekarang Nyi Mayang Cinde.”
       “Oh anakku, kenapa sampai demikian? Lalu di mana ibumu?”
       “Ayahanda, semua sudah terjadi. Hamba dan Ibu menderita sakit kulit, pergi ke hutan, hidup sengsara di sana. Sampai kemudian Ibu meninggal. Ini semua karena ada yang memfitnah. Ada yang menggunakan ilmu teluh untuk mencelakakan hamba dan Ibunda. Untung hamba ditolong oleh Batara Baruna, hamba diminta membantu menjaga pantai selatan Pajajaran. Hamba dapat berujud seperti semula, tapi hanya di alam halus, karena badan kasar hamba sudah rusak, dikubur. Hamba tahu siapa yang memfitnah.”
       “Siapa sebutkan anakku, biar nanti ayahanda menghukumnya,” kata Baginda.
       “Sudahlah Ayahanda hamba tidak akan membalas dendam. Hamba sudah memaafkannya asal tidak mengulanginya pada orang lain,” kata Nyi Mayang Cinde.
      Dari dulu Putri Kadita dikenal baik budi, Baginda dan para punggawa bisa memahami kalau Putri Kadita tidak ingin membalas dendam. Meskipun Baginda dan para punggawa ingin menghukum orang yang memfitnah Putri Kadita, tetapi karena putri itu tidak mau menunjukkan siapa yang memfitnahnya mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
       “Sekarang ini, hamba menguasai pantai selatan Pajajaran. Hamba akan menjaga setiap nelayan Pajajaran yang mencari ikan, asal mereka berbuat baik, tidak melanggar aturan negara dan kepercayaan yang dianutnya. Itulah pesan hamba. Nah Ayahanda, hamba sudah terlalu lama menampakkan diri di mayapada ini, hamba akan segera kembali ke kahyangan,” kata Nyi Mayang Cinde.
       Setelah Nyi Mayang Cinde lenyap dari pandangan, dengan perasaan sedih Baginda pulang ke istana. Kabar itu segera tersebar ke seluruh negeri Pajajaran. Selir Baginda yang membenci Putri Kadita mendengar kabar itu menyesali perbuatannya. Ia dulu minta bantuan dukun untuk meneluh Putri Kadita dan permaisuri sehingga menderita sakit kulit.
      Selir itu lalu menghadap Sri Baginda mengakui perbuatannya. Waktu itu Sri Baginda akan menjatuhkan hukuman, tiba-tiba muncullah Nyi Mayang Cinde meminta agar Sri Baginda tidak menghukum selir itu, karena Nyi Mayang Cinde sudah memaafkannya. Setelah Baginda menuruti kehendak Nyi Mayang Cinde, putri itu kemudian kembali ke kahyangan di laut selatan. Sedang tempat Nyi Mayang Cinde menolong nelayan, sekarang disebut pantai Pelabuhan Ratu.***(Diceritakan kembali oleh WarismanNaskah ini pernah di kirimkan ke Redaksi Harian Suara Merdeka dan dimuat Minggu 21 November 1993 pada rubrik Dongeng Nina Bobo.)                         
Share this article :

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

 
Support : Blog SEO Adsense | Galeri Bola
Copyright © 2014. Fiksi Blog - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger Edited by Warisman