Home » » Gelatik Kecil dan Nasi Pulen

Gelatik Kecil dan Nasi Pulen

Written By Fiksi Blog on Saturday, 2 November 2013 | 06:47



  Gelatik kecil itu terbang diantara ranting dan dahan yang berdekatan. Terbang pendek-pendek, karena memang belum bisa terbang jauh. Ia baru belajar, induknya terbang di dekatnya, mejaga dan melatihnya. Untuk makan ia juga masih disuap.
            “Hati-hati, pilih ranting yang kuat untuk pijakan,” kata induknya.
            Beberapa kali gelatik kecil itu hampir tidak bisa mencapai dahan atau ranting di depannya. Sekali dua terpeleset, untung tidak sampai jatuh ke tanah. Induknya melatih terbang diantara dahan dan ranting yang rimbun dan tidak terlalu jauh dari tanah. Setiap kali, selain melatih ketangkasan sang induk sering memberi nasihat, termasuk bagaimana bertindak.
           “Hati-hati musuh kita banyak, Di langit ada burung elang yang siap menerkam kita, di tanah ada kucing, anjing dan manusia,” kata Induknya,
          “Mak kok manusia ikut memusuhi kita, kenapa sih?” tanya gelatik kecil.
         “Makanan kita sehari-hari kan padi. Padahal padi itu makanan pokok manusia. Padi itu ditanam oleh manusia. Kita ini dianggap hama, perusak tanaman padi, karena kita sering mengambil padi yang ditanam itu,” kata induk gelatik.
         “Hiii lucu, manusia kok makan padi seperti kita,” gelatik kecil itu tertawa kecil.
         “Manusia itu banyak akal. Padi tidak dimakan begitu saja, tapi ditumbuk menjadi beras, kemudian ditanak menjadi nasi. Rasanya lebih enak. Emak pernah mengambilnya di rumah Pak Dukuh, waktu itu kamu belum lahir,” kata si induk gelatik.
        “Mak seperti apa sih rasanya nasi? Kapan-kapan aku dibawakan Mak, ambil dari rumah Pak Dukuh,” pinta gelatik kecil.
       “Mengambil nasi di rumah Pak Dukuh berbahaya. Salah-salah emak bisa ditangkap.”
       “Tapi waktu itu kok Emak bisa mengambil.”
       “Ya waktu itu Pak Dukuh sedang menghidangkan nasi kepada tukang kayu yang menggarap pintu rumah Pak Dukuh. Ketika orang-orang lengah, aku mengambilnya sejumput. Rasanya enak pulen, maklum beras Delanggu,” kata si induk lagi.
       Si kecil masih ingin bertanya lagi, tapi oleh si induk sudah disuruh terbang lagi. Setelah capai, induk dan anaknya kembali ke sarang.

Foto:Bing.com
         Burung gelatik itu membuat sarang tidak jauh dari sawah, supaya si induk mudah mencari makan. Di sarang masih ada beberapa untaian padi. Si induk mematuknya, demikian pula si kecil. Tapi si kecil beberapa kali nampak kesulitan menelan. Si induk menolongnya dengan melolohkan makanan yang sudah ada dalam paruhnya.
       Malam pun tiba. Induk dan anaknya istirahat di sarang. Dengan cepat si induk tertidur karena capai, sebab ia mencari makan dan melatih anaknya terbang. Lain si induk, lain si kecil. Gelatik kecil ini justru tidak tidur-tidur karena ingat cerita induknya tentang nasi di rumah Pak Dukuh.
      “Besok kalau Emak pergi mencari makan, aku akan ke rumah Pak Dukuh mengambil nasi,” kata gelatik kecil itu dalam hati.
      Sampai jauh malam gelatik kecil itu gelisah membayangkan rasa nasi pulen beras Delanggu. Tapi kemudian dia jatuh tertidur juga. Ketika bangun, matahari sudah nampak sinarnya , semburat merah  di ufuk timur. Emaknya sudah dari tadi bangun, sudah berkicau ramai menyambut sang mentari. Si kecil kemudian ikut berkicau.
      “Ingat Nak, kamu tidak boleh ke mana-mana. Kalau mau belajar terbang tunggu emak pulang. Ini masih ada beberapa utaian padi kalau kamu lapar. Sekali lagi ingat ya Nak, jangan keluar dari sarang kalau emak tidak ada,” pesan induknya.
       Gelatik kecil itu mengiyakan. Dalam hati ia menyuruh emaknya segera pergi, dengan begitu ia bisa segera pergi pergi ke rumah Pak Dukuh. Ia bersorak riang dalam hati ketika emaknya pergi terbang dari dahan yang satu ke dahan lainnya dan kemudian terbang jauh menuju ke sawah.
        Ketika sang induk sudah tidak kelihatan, gelatik kecil itu keluar dari sarang. Induknya pernah menunjukkan di mana rumah Pak Dukuh. Memang tidak jauh dari pohon mangga tempat mereka bersarang. Dari pohon mangga itu rumah Pak Dukuh kelihatan.
         Gelatik kecil itu mulai meloncat ke dahan terdekat, pindah lagi ke dahan di dekatnya, kemudian terbang pindah ke pohon lainnya yang terdekat. Pohon demi pohon ia capai, sampai kemudian, tinggal pohon jambu saja yang ada. Padahal jarak dengan rumah Pak Dukuh masih cukup jauh untuk ukuran jangkauan terbang si gelatik kecil itu. Ia sempat ragu,mengukur kemampuan terbangnya sendiri. Kembali apa terus. Begitu hatinya ramai sendiri. Kembali ke sarang sudah jauh, melanjutkan terbang jaraknya jauh juga. Apa bisa terjangkau oleh kemampuan terbangnya?
           Namun cerita tentang nasi pulen terbayang di mata si gelatik kecil. Akhirnya ia nekat, untung-untungan. Setelah mengatur pernafasan, ia kembali mengembangkan sayapnya terbang menuju rumah Pak Dukuh. Tetapi apa daya, gelatik kecil itu belum mampu terbang jauh, dengan terengah-engah gelatik kecil itu terpaksa hinggap di tanah.
         Celaka! Saat ia hinggap di tanah, tidak jauh dari tempatnya, sepasang mata mengawasi. Mata kucingnya Pak Dukuh. Melihat ada burung kecil tak berdaya, kucing warna kembang asem itu siap menerkam. Gelatik kecil itu ketakutan. Seluruh tubuhnya lemas seketika memandang sorot mata si kucing yang menyeramkan. Ditambah lagi memang gelatik kecil itu sudah capai. Saat itulah ia ingat induknya, ingat pesan supaya jangan pergi jauh-jauh. Gelatik kecil menangis, tapi apalah gunanya kini. Maut sudah dekat.
        Pada detik-detik  terakhir, kebetulan Parman anak Pak Dukuh lewat tidak jauh dari tempat itu.  Melihat kucingnya akan menerkam burung kecil, lalu dihalaunya. Si kucing yang dilempari segumpal tanah lari ketakutan pulang ke rumah Pak Dukuh.
        Si gelatik kecil kembali ingat pesan induknya, manusia itu juga memusuhinya. Maka ia tambah gemetar, tidak bisa berbuat apa-apa ketika ditangkap oleh Parman. Gelatik kecil itu sudah pasrah.
       Ia menurut saja ketika dibawa, tetapi ia kemudian menjadi heran, karena Parman berjalan mendekati pohon tempat induk gelatik bersarang. Lebih heran lagi ketika Parman ternyata memanjat pohon mangga itu, dan kemudian, menaruh gelatik kecil di sarangnya.
      Kemudian Parman turun dan pergi.
      Gelatik kecil itu menarik nafas lega, meskipun tetap saja gemetar ketakutan. Bahkan ketika induknya pulang, ia juga masih gemetaran, lalu menangis menceritakan pengalamannya. Menyesal tidak menuruti nasihat emaknya. Untung Parman termasuk anak yang sayang pada binatang, kalau saja ia tertangkap anak nakal, sudah bisa dipastikan dijadikan mainan, atau dikurung. Setelah kejadian itu, burung kecil menjadi penurut pada apa yang dikatakan sang  induk. Tidak menurut nasihat orang tua kadang bisa celaka, contohnya gelatik kecil itu.(Naskah ini tulisan Warisman merupakan penuisan ulang pernah dikirimkan ke Redaksi Suara Merdeka Minggu dan dimuat pada rubrik Dongeng Nina Bobo Minggu 8 Agustus 1993 halaman VI)                      
Share this article :

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

 
Support : Blog SEO Adsense | Galeri Bola
Copyright © 2014. Fiksi Blog - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger Edited by Warisman