Gelatik kecil itu terbang diantara
ranting dan dahan yang berdekatan. Terbang pendek-pendek, karena memang belum
bisa terbang jauh. Ia baru belajar, induknya terbang di dekatnya, mejaga dan
melatihnya. Untuk makan ia juga masih disuap.
“Hati-hati, pilih ranting yang kuat
untuk pijakan,” kata induknya.
Beberapa kali gelatik kecil itu
hampir tidak bisa mencapai dahan atau ranting di depannya. Sekali dua
terpeleset, untung tidak sampai jatuh ke tanah. Induknya melatih terbang
diantara dahan dan ranting yang rimbun dan tidak terlalu jauh dari tanah.
Setiap kali, selain melatih ketangkasan sang induk sering memberi nasihat,
termasuk bagaimana bertindak.
“Hati-hati musuh kita banyak, Di
langit ada burung elang yang siap menerkam kita, di tanah ada kucing, anjing dan
manusia,” kata Induknya,
“Mak kok manusia ikut memusuhi kita,
kenapa sih?” tanya gelatik kecil.
“Makanan kita sehari-hari kan padi.
Padahal padi itu makanan pokok manusia. Padi itu ditanam oleh manusia. Kita ini
dianggap hama, perusak tanaman padi, karena kita sering mengambil padi yang
ditanam itu,” kata induk gelatik.
“Hiii lucu, manusia kok makan padi
seperti kita,” gelatik kecil itu tertawa kecil.
“Manusia itu banyak akal. Padi tidak
dimakan begitu saja, tapi ditumbuk menjadi beras, kemudian ditanak menjadi
nasi. Rasanya lebih enak. Emak pernah mengambilnya di rumah Pak Dukuh, waktu
itu kamu belum lahir,” kata si induk gelatik.
“Mak seperti apa sih rasanya nasi?
Kapan-kapan aku dibawakan Mak, ambil dari rumah Pak Dukuh,” pinta gelatik
kecil.
“Mengambil nasi di rumah Pak Dukuh
berbahaya. Salah-salah emak bisa ditangkap.”
“Tapi waktu itu kok Emak bisa
mengambil.”
“Ya waktu itu Pak Dukuh sedang
menghidangkan nasi kepada tukang kayu yang menggarap pintu rumah Pak Dukuh.
Ketika orang-orang lengah, aku mengambilnya sejumput. Rasanya enak pulen,
maklum beras Delanggu,” kata si induk lagi.
Si kecil masih ingin bertanya lagi, tapi
oleh si induk sudah disuruh terbang lagi. Setelah capai, induk dan anaknya
kembali ke sarang.
![]() |
| Foto:Bing.com |
Burung gelatik itu membuat sarang tidak
jauh dari sawah, supaya si induk mudah mencari makan. Di sarang masih ada
beberapa untaian padi. Si induk mematuknya, demikian pula si kecil. Tapi si
kecil beberapa kali nampak kesulitan menelan. Si induk menolongnya dengan
melolohkan makanan yang sudah ada dalam paruhnya.
Malam pun tiba. Induk dan anaknya
istirahat di sarang. Dengan cepat si induk tertidur karena capai, sebab ia
mencari makan dan melatih anaknya terbang. Lain si induk, lain si kecil.
Gelatik kecil ini justru tidak tidur-tidur karena ingat cerita induknya tentang
nasi di rumah Pak Dukuh.
“Besok kalau Emak pergi mencari makan,
aku akan ke rumah Pak Dukuh mengambil nasi,” kata gelatik kecil itu dalam hati.
Sampai jauh malam gelatik kecil itu
gelisah membayangkan rasa nasi pulen beras Delanggu. Tapi kemudian dia jatuh
tertidur juga. Ketika bangun, matahari sudah nampak sinarnya , semburat
merah di ufuk timur. Emaknya sudah dari
tadi bangun, sudah berkicau ramai menyambut sang mentari. Si kecil kemudian
ikut berkicau.
“Ingat Nak, kamu tidak boleh ke
mana-mana. Kalau mau belajar terbang tunggu emak pulang. Ini masih ada beberapa
utaian padi kalau kamu lapar. Sekali lagi ingat ya Nak, jangan keluar dari
sarang kalau emak tidak ada,” pesan induknya.
Gelatik kecil itu mengiyakan. Dalam hati
ia menyuruh emaknya segera pergi, dengan begitu ia bisa segera pergi pergi ke
rumah Pak Dukuh. Ia bersorak riang dalam hati ketika emaknya pergi terbang dari
dahan yang satu ke dahan lainnya dan kemudian terbang jauh menuju ke sawah.
Ketika sang induk sudah tidak
kelihatan, gelatik kecil itu keluar dari sarang. Induknya pernah menunjukkan di
mana rumah Pak Dukuh. Memang tidak jauh dari pohon mangga tempat mereka
bersarang. Dari pohon mangga itu rumah Pak Dukuh kelihatan.
Gelatik kecil itu mulai meloncat ke
dahan terdekat, pindah lagi ke dahan di dekatnya, kemudian terbang pindah ke
pohon lainnya yang terdekat. Pohon demi pohon ia capai, sampai kemudian,
tinggal pohon jambu saja yang ada. Padahal jarak dengan rumah Pak Dukuh masih
cukup jauh untuk ukuran jangkauan terbang si gelatik kecil itu. Ia sempat
ragu,mengukur kemampuan terbangnya sendiri. Kembali apa terus. Begitu hatinya
ramai sendiri. Kembali ke sarang sudah jauh, melanjutkan terbang jaraknya jauh
juga. Apa bisa terjangkau oleh kemampuan terbangnya?
Namun cerita tentang nasi pulen
terbayang di mata si gelatik kecil. Akhirnya ia nekat, untung-untungan. Setelah
mengatur pernafasan, ia kembali mengembangkan sayapnya terbang menuju rumah Pak
Dukuh. Tetapi apa daya, gelatik kecil itu belum mampu terbang jauh, dengan
terengah-engah gelatik kecil itu terpaksa hinggap di tanah.
Celaka! Saat ia hinggap di tanah,
tidak jauh dari tempatnya, sepasang mata mengawasi. Mata kucingnya Pak Dukuh.
Melihat ada burung kecil tak berdaya, kucing warna kembang asem itu siap menerkam. Gelatik kecil itu ketakutan.
Seluruh tubuhnya lemas seketika memandang sorot mata si kucing yang menyeramkan.
Ditambah lagi memang gelatik kecil itu sudah capai. Saat itulah ia ingat
induknya, ingat pesan supaya jangan pergi jauh-jauh. Gelatik kecil menangis,
tapi apalah gunanya kini. Maut sudah dekat.
Pada detik-detik terakhir, kebetulan Parman anak Pak Dukuh
lewat tidak jauh dari tempat itu.
Melihat kucingnya akan menerkam burung kecil, lalu dihalaunya. Si kucing
yang dilempari segumpal tanah lari ketakutan pulang ke rumah Pak Dukuh.
Si gelatik kecil kembali ingat pesan
induknya, manusia itu juga memusuhinya. Maka ia tambah gemetar, tidak bisa
berbuat apa-apa ketika ditangkap oleh Parman. Gelatik kecil itu sudah pasrah.
Ia menurut saja ketika dibawa, tetapi ia
kemudian menjadi heran, karena Parman berjalan mendekati pohon tempat induk
gelatik bersarang. Lebih heran lagi ketika Parman ternyata memanjat pohon
mangga itu, dan kemudian, menaruh gelatik kecil di sarangnya.
Kemudian Parman turun dan pergi.
Gelatik kecil itu menarik nafas lega,
meskipun tetap saja gemetar ketakutan. Bahkan ketika induknya pulang, ia juga
masih gemetaran, lalu menangis menceritakan pengalamannya. Menyesal tidak
menuruti nasihat emaknya. Untung Parman termasuk anak yang sayang pada
binatang, kalau saja ia tertangkap anak nakal, sudah bisa dipastikan dijadikan
mainan, atau dikurung. Setelah kejadian itu, burung kecil menjadi penurut pada
apa yang dikatakan sang induk. Tidak
menurut nasihat orang tua kadang bisa celaka, contohnya gelatik kecil itu.(Naskah ini tulisan Warisman merupakan
penuisan ulang pernah dikirimkan ke Redaksi Suara Merdeka Minggu dan dimuat
pada rubrik Dongeng Nina Bobo Minggu 8 Agustus 1993 halaman VI)

0 comments:
Post a Comment