Home » » Anjing dan Burung Gagak

Anjing dan Burung Gagak

Written By Fiksi Blog on Friday, 1 November 2013 | 07:48

    Hidung si belang mencium bau daging. Anjing liar ini kemudian mencari sumber bau. Ternyata ada daging sedang dijemur di halaman rumah Mbok Kromo. Tetapi anjing belang ini tidak berani mengambilnya, karena Mbok Kromo menunggui daging yang dijemurnya. 

     Si belang hanya bisa memandangi daging dari jauh  dengan air liur yang menetes. Ia mendekam,bersembunyi di balik tumbuhan perdu. Matanya terus mengawasi sekerat daging yang dijemur oleh Mbok Kromo itu. Ia menunggu Mbok Kromo lengah. 

Anjing dan Burung Gagak
Foto: Jpnn.com
     Tampaknya saat yang ditunggu si belang akan segera tiba. Mbok Kromo bangkit dari duduknya. Agaknya ia akan meninggalkan daging yang ia jemur itu untuk suatu keperluan. Mbok Kromo menoleh kesana kemari, memperhatikan keadaan sekitar, kira-kira dagingnya aman apa tidak kalau ditinggal sebentar. 

Anjing dan Burung Gagak
Foto: Jarusalembaru.blogspot.com
     Si belang makin rapat bersembunyi agar tidak terlihat oleh Mbok Kromo. Memang Mbok Kromo tidak melihat seekor anjing sedang mengawasi daging yang dijemurnya. Melihat keadaan sekitar sepi, aman, Mbok Kromo kemudian masuk ke dalam rumah. 

    “Inilah saat yang kutunggu-tunggu,” kata si belang dalam hati. 
     Anjing liar ini segera berdiri tegak, mempersiapkan diri. Dan huuup....ia lari sekencang-kencangnya menuju ke tempat daging itu dijemur. 

      Tapi apa itu? Ada bayangan hitam menukik dari atas menyambar daging yang dijemur di atas tampah itu. Ternyata seekor burung gagak lebih cepat menyambar daging itu dengan paruhnya. 
     “Gagak celaka!” maki si belang marah. 

      Rasa marah si belang dilampiaskannya dengan menggonggong. Moncongnya ia arahkan kepada gagak yang sedang terbang berputar mengejek. Tampaknya si belang sedang sial, mendengar suara gonggongan anjing, Mbok Kromo memastikan daging yang ia jemur dimakan binatang. 

     Maka Mbok Kromo keluar rumah sambil membawa tongkat pemukul. Karena yang terlihat si belang, maka kemarahan Mbok Kromo dilampiaskan kepada si belang. Tongkat pemukul itu berkali-kali mendarat di tubuh si belang. 

     “Kaiiing....!” si belang melolong kesakitan, lari menyelematkan diri meninggalkan halaman rumah Mbok Kromo. 

      Si belang jadi makin marah kepada gagak yang mendahuluinya menyambar daging. Ia tengadahkan kepalanya, ia lihat burung hitam itu masih melayang-layang di atas . Si belang kembali menggonggong ke arah burung gagak. Dari bawah, diikutinya  terus kemana burung hitam itu pergi. Setiap gagak hinggap di pohon akan memakan daging curiannya, si anjing menggonggong di bawahnya. Mengganggunya. Terpaksa gagak terbang lagi mencari pohon lain. Begitu terus berkali-kali. Ini membuat dua hewan itu capai. Si belang kemudian mencari akal agar bisa mendapatkan daging itu. 

        “Aku harus ganti cara. Ya aku ingat, gagak itu senang dipuji,” kata belang dalam hati. 
       Si belang kemudian berhenti menggonggong. 

       “Gagak sahabatku, kamu memang pantas mendapatkan daging itu karena kamu lebih tangkas. Aku menyadari itu, dan aku ikhlas daging itu kamu nikmati. Disamping itu, sebetulnya semua binatang menyukai suaramu yang merdu. Kalau disuruh memilih, aku memang memilih mendengarkan suaramu daripada makan daging itu. Oleh karena itu, gagak sahabatku, cobalah kamu bersuara walau cuma sebentar. Aku dan juga hewan yang lain akan senang mendengar suaramu,” kata si belang. 

       Mendengar pujian seperti itu, gagak senang sekali. Ia tidak tahu bahwa pujian si belang ada maunya. Maka si gagak segera mengeluarkan suaranya. 

       “Gaaak...!” 

       Gagak tidak sadar  bahwa paruhnya waktu itu sedang digunakan untuk menjepit daging curian. Untuk bisa bersuara gagak harus membuka paruhnya. Begitu paruhnya terbuka, daging yang ada di paruh jatuh ke tanah.  

       Dengan sigap si belang menyergap daging yang jatuh dari tempat gagak bertengger. Kemudian anjing liar ini berlari membawa daging itu menyelusup diantara tetumbuhan perdu. 

      Gagak yang sadar bahwa baru saja ditipu, hanya bisa ribut berkaok-kaok dari dahan pohon tempanya bertengger. Tapi karena daging itu curian, si belang pun tidak bisa menikmati.

     Ketika si belang sampai di tepi sungai yang airnya jernih, melihat bayangan dirinya di air. Dikiranya anjing lain yang akan merebut dagingnya.  Belang menyalak untuk menggertak anjing lain itu. Ia lupa bahwa diringnya sedang menggigit daging. Untuk menggonggong ia harus membuka moncong. Begitu moncong terbuka, daging itu pun jatuh ke sungai, hanyut dibawa arus yang deras.***(Naskah ini tulisan  Warisman pernah  dikirimkan ke Tabloid Yunior dan dimuat pada Edisi 149 Th III Minggu, 19 Januari 2003)
Share this article :

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

 
Support : Blog SEO Adsense | Galeri Bola
Copyright © 2014. Fiksi Blog - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger Edited by Warisman